Kesetiaan (Yesaya 65:1-9)

Sebuah kisah tentang seorang petani mempunyai seorang anak yang tidak pernah membantu ayahnya bekeria di ladang. Akibatya ia tidak memiliki kemampuan bercocok tanam pada waktu ayahnya meninggal ia mewariskan ladang itu kepada anaknya.

Ketika musim tanam sang anak menanam padi di ladang orang tuanya. Hari demi hari dilalui namun ia merasa pertumbuhan padinya lambat dan tidak menghasilkan bulir padi dengan cepat. la kehilangan kesabaran dan mengambil jalan pitas untuk segera panen.

Ia berpikir alangkah baiknya jika batang padi ditarik ke atas agar cepat tinggi dan berbuah dengan cepat. Dua hari kemudian batang padi yang ditarik ke atas bukannya makin tinggi tapi malah tunduk layu dan mati. Ketidaksabaran sering melahirkan malapetaka.

Kisah di atas sangat berbeda dengan cara Allah dalam proses pertumbuhan iman percaya umat-Nya. Dalam situasi kondisi manusia terburuk sekalipun, Allah selalu punya cara untuk menyelamatkan manusia.

Melalui nabi Yesaya diberitakan tentang bagaimana kesabaran dan kasih setia Tuhan dalam menjangkau umat yang sedang dalam pergumulan. Diperlihatkan bahwa kondisi umat Israel, mereka senantiasa menyakiti hati Allah dengan mempersembahkan korban kepada dewa-dewi, mereka hidup tidak memperdulikan Tuhan dengan tidak pernah memanggil nama-Nya (ayat 1) mereka hidup menurut cara pandang mereka, mereka terus menyakiti hati Tuhan (ayat 2-5).

Namun kasih Tuhan kepada umat-Nya melampaui keterbatasan dan keberdosaan mereka. Kesabaran Tuhan yang tidak henti terus melakukan pemulihan dari generasi ke generasi. Allah telah mengulurkan tangan kasih-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya. Ini adalah demonstrasi sifat Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (Mazmur 86:15).

Ia juga adalah Allah yang adil, dalam keadilan-Nya Ia akan menghukum setiap orang yang berbuat dosa, namun akan ada pengampunan bagi mereka yang mau bertobat.

Jadi pasal ini merupakan jawaban Allah atas doa umat di pasal (63:7-19) itulah Allah di tengah umat yang bobrok tetap ada pengharapan bahwa Allah akan mengangkat orang-orang pilihan-Nya untuk menggenapi janji-Nya dan menjadi berkat.

Kita diajak untuk meninggalkan jalan yang memberontak terhadap Allah dan mencari Dia. [*]

Penulis: GI. Orpa Laka Analaji

Bagikan ke: