Rasul Paulus adalah seorang tokoh yang sangat terkenal dalam Perjanjian Baru, ia menjadi seorang pemberita Injil yang terkenal karena kegigihan dan keberaniannya dalam mengabarkan Injil. Namun di balik itu ada perjalanan yang tidak mudah ia tempuh, ada begitu banyak tantangan yang diperhadapkannya.
Dalam perjalanan pelayanannya, ia berjumpa dengan orang-orang yang tidak mudah menerima pengajarannya. Banyak orang yang hanya melihat latar belakangnya yang gelap. Sehingga ketika Rasul Paulus telah berhasil membangun jemaat Galatia, bukan dipuji dan dihargai tetapi justru kritikanlah yang diterimanya.
Berita Injil yang disampaikan serta jabatan kerasulannya diserang oleh kelompok-kelompok Yahudi yang berusaha mengacaukan iman jemaat Galatia. Kelompok orang Yahudi itu berusaha memutarbalikkan kebenaran Injil (ayt. 7). Mereka juga menuduh Paulus sebagai orang yang tidak termasuk kelompok rasul yang asli karena itu ia tidak memiliki wibawa rasuli, bahkan mereka menuduh Paulus bahwa pemberitaannya menyimpang dan tidak sah. Karena itu Rasul Paulus membantah tuduhan dan mengatakan bahwa:
- Sumber Injilnya bukan dari manusia melainkan dari Allah sendiri melalui pernyataan Yesus Kristus sendiri (11-12).
- Kristus sendirilah yang memilih dan memerintah Rasul Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (ayt. 15-16). Oleh sebab itu jelaslah bahwa Injil yang ia beritakan adalah kebenaran (20) dan jabatan kerasulannya dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah dan manusia (ayt. 18-19).
Apa yang dapat kita refleksikan dari Firman Tuhan ini bagi pertumbuhan iman kita saat ini karena tidak mungkin kita juga diperhadapkan kepada hal-hal seperti yang dialami Rasul Paulus bahwa menjadi saksi Tuhan memberitakan Injil Tuhan bukan perkara yang mudah, butuh ketaatan kita, kerelaan kita dan mungkin ada hal-hal yang harus kita lepas dari hidup kita.
Bahkan mungkin kita tidak disukai dan dikucilkan karena itu belajarlah teladan Rasul Paulus bahwa perjumpaan pribadinya dengan Tuhan telah mengubah Paulus dari Penganiaya jemaat menjadi Pemberita Injil sejati. Kiranya semangat Pentakosta membakar semangat kita untuk terus giat melayani Tuhan.
“Efektifitas Pemberita Injil tidak bergantung pada kehebatan kata-kata, tetapi pada otoritas Allah”. [*]
Penulis: GI. Orpa Laka Analaji