Semua manusia pasti pernah gagal, entah untuk hal-hal yang sepeleh atau hal-hal yang besar dalam hidup. Minimal setiap orang pernah mengalami satu kali gagal dalam hidup. Gagal waktu belajar berjalan waktu kecil, gagal waktu belajar bersepeda/motor, gagal dalam hubungan asmara, gagal dalam pendidikan, gagal dalam pekerjaan/usaha, dll.
Bicara tentang kegagalan, tentu kita juga pernah mengalami kegagalan dalam menjalani kehidupan kerohanian: Gagal dalam membangun persekutuan dengan Tuhan — Gagal dalam komitmen untuk setia melayani Tuhan — Gagal dalam upaya untuk selalu menyenangkan hati Tuhan — Gagal dalam usaha untuk hidup selalu berkenan kepada Tuhan.
Dalam firman Tuhan, ada 2 kelompok orang gagal yang kita temui. Secara khusus kegagalan mereka dalam hubungan dengan Tuhan Yesus.
Kelompok I yaitu para murid yang diwakili oleh Petrus (murid yang sering mengaku setia pada Yesus, mengaku tidak akan menyangkal, mengaku rela dipenjara dan mati bersama Yesus), tapi gagal melakukan semua yang diungkapkan atau dijanjikan. Petrus menyangkal Yesus dan bersama murid yang lain meninggalkan Yesus. Mereka gagal karena rasa takut yang besar berhadapan dengan penguasa dan orang banyak yang ingin menangkap dan membunuh Yesus, yang tentunya juga menjadi ancaman bagi mereka (secara khusus Petrus)
Kelompok II adalah orang banyak yang juga turut serta meneriakkan agar Yesus disalib dan dihukum mati. Mereka gagal karena mereka belum sungguh-sungguh mengenal dan belum percaya bahwa Yesus adalah Mesias.
Tapi ada nilai positif yang kita pelajari dari dua kelompok ini adalah, baik Petrus dan orang banyak yang sama-sama pernah gagal dalam hubungan dengan Yesus, tidak untuk seterusnya terpuruk dalam kegagalan mereka dengan kata lain mereka tidak untuk seterusnya berpaling dari Yesus. Melainkan mereka mampu memanfaatkan kesempatan untuk bertobat dan datang pada Yesus. Dan hal ini terjadi semata-mata karena karya pertolongan Roh Kudus, baik kepada Petrus dalam peristiwa Pentakosta (ayat 1-13), yang sempat dianggap mabuk oleh sebagian orang, karena itu Petrus menjawab tuduhan itu pada ayat 14-35. Begitu juga orang banyak yang merespon khotbah Petrus, dapat menerima Yesus dan mau bertobat, semata-mata karena kuasa pertolongan Roh Kudus.
Kuasa pertolongan Roh Kudus dapat kita lihat dalam perubahan sikap 2 kelompok (Petrus dan orang banyak):
- Petrus menyesali kegagalannya, bertobat dan menjadi pemberita injil yang luar biasa (beda dengan Yudas yang menyesali kegagalannya tapi tidak bertobat melainkan bunuh diri). Luar biasanya pelayanan dan pemberitaan Petrus bersama murid yang lain diberkati sehingga banyak orang menjadi percaya dan menerima Yesus. Luar biasanya kegagalannya ditebus dengan total hidup bagi Tuhan Yesus, sampai akhir hidup Petrus mati mengenaskan dengan cara disalib secara terbalik karena Petrus merasa tidak pantas disalib sama seperti Yesus.
- Orang banyak yang dulunya berteriak salibkan Yesus, yang dulunya mendukung agar Yesus dibunuh, merespon berita injil yang diberitakan Petrus dengan hati yang tersentuh dan dengan hati yang tersadar akan dosa mereka yang dulunya gagal mengenal Yesus Sang Mesias dan gagal dalam memahami rancangan keselamatan dari Tuhan. Mereka lalu merespon dengan sigap dengan meminta petunjuk Petrus dan murid yang lain, lalu akhirnya mereka mengambil keputusan untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat yang ditandai dengan mereka memberi diri untuk dibabtis. Luar biasanya mereka diberkati Tuhan sehingga terus bertumbuh dan bertambah di dalam Tuhan (bacaan selanjutnya tentang cara hidup jemaat mula-mula).
Luar biasanya lagi kegagalan sebelumnya mereka tebus dengan sepenuhnya memberi hidup bagi Tuhan Yesus sampai mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk dipersembahkan bagi Tuhan dan sekalipun tantangan dan ancaman yang besar mereka hadapi (bisa dilihat dalam bacaan selanjutnya ayat 41-47).
Kegagalan dalam kehidupan kerohanian adalah hal yang sulit kita hindari, tapi jangan sampai kegagalan itu membuat kita terpuruk dan terpisah selamanya dari Tuhan Yesus. Jangan juga karena kegagalan lalu kita mulai mencari pembenaran dengan menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, dll.
Dengan pertolongan Roh Kudus, Petrus merasakan pedihnya kegagalan dan menyesali kegagalannya karena telah menyangkal Yesus. Dengan pertolongan Roh Kudus, orang banyak merasakan pedihnya kegagalan ketika mereka turut serta meneriakkan salibkan Yesus, karena itu hati mereka tersentuh-teriris-tertusuk-terharu ketika mendengar pemberitaan Petrus. Tapi bukan hanya sampai disitu, melainkan mereka bangkit dari kegagalan, mereka bertobat, memandang kepada Yesus dan hidup baru dalam Yesus yang mati dan bangkit sebagai Juruselamat.
Tidak perduli berapa banyak kali kita gagal dalam membangun hubungan dengan Tuhan, tidak perduli seberapa dalam kita pernah jatuh dalam berbagai pencobaan, kita mungkin sering berpaling dan menyangkal Tuhan dengan hidup mengikuti keinginan diri sendiri yang tidak sesuai kehendak Tuhan, dalam rumah tangga kita pernah berlaku tidak setia terhadap pasangan, dalam pekerjaan kita mungkin pernah berlaku tidak adil dan bekerja dengan tidak jujur, dalam pelayanan kita mungkin lebih suka mencari kepentingan diri sendiri.
Intinya jangan berhenti di sana, jangan sampai kita terus terjebak di sana. Sadarilah semua, sesalilah semua, datang pada Yesus minta pengampunan dan mintalah kuasa pertolongan Roh Kudus agar memampukan kita untuk sungguh-sungguh bertobat dari hati-pikiran-cara hidup.
Kuncinya adalah kita harus selalu membuka ruang bagi Roh Kudus penolong kita, agar kita mampu mengarahkan hati untuk menerima firman yang akan selalu menyentuh dan menggugah hidup kita sehingga kekuatan firman yang akan mengubah kita di dalam Tuhan Yesus. Sehingga kehidupan kita boleh menjadi kesaksian bagi siapa saja dan dimana saja kita berada, dan di atas semuanya nama Tuhanlah yang dipuji dan dimuliakan. Amin [*]
Penulis: Pdt. Fandrian Ngg. Hukapati, S.Th