Pendahuluan:
Suatu kejadian unik yang sering terjadi dalam olahraga tinju. Seorang petinju yang menjadi sang juara dunia akan memasuki gelanggang pertandingan dengan lagak, arogan, percaya diri yang tinggi dengan membawa sabuk kemenangannya. Namun, di saat ia kalah dalam pertandingan, ia keluar dengan tertunduk dan muka lebam, penuh sesal. Salah satu tokoh Alkitab yang terkenal dengan semangat menyingkirkan para murid-murid Kristus adalah Saulus.
Pendalaman Teks:
Ayat 1-2, menjelaskan tentang Saulus adalah seorang yang berasal dari Tarsus, daerah Kilikia yang terkenal sebagai kota pusat kebudayaan dan filsafat Yunani. Saulus berasal dari keluarga Yahudi. Di usia muda, Saulus datang ke Yerusalem dan menjadi seorang mengikut golongan Farisi. Saulus dididik dengan teliti di bahwa pimpinan Gamaliel, salah seorang pimpinan Yahudi yang sangat terkenal. Di sana, ia dididik menurut hukum nenek moyangnya (Kis. 22:3). Saulus merupakan salah seorang yang menyetujui pembunuhan Stefanus (Kis. 7:54-8:1a). Pada saat itu, Saulus mulai menganiaya jemaat Tuhan. Ia mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Untuk lebih melancarkan rencananya, Ia menghadap Imam Besar Bernama Hanas, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.
Ayat 3-8, menjelaskan Saulus berjumpa dengan Yesus dalam perjalanannya menuju Damsyik. Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Saulus dalam kemuliaan dan kuasa-Nya yang berdaulat. Cahaya kemuliaan Tuhan yang memancar membuat Saulus rebah ke tanah, sehingga ia hanya dapat mendengar Yesus menyapanya; “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Sapaan Yesus ini, mengubah kehidupan Saulus. Sebelumnya, Paulus membanggakan diri tentang hal-hal besar yang telah dicapai dalam agama Yahudi, bahkan ia memahami bahwa tindakan yang ia lakukan kepada pengikut Yesus adalah tindakan membela yang benar. Di saat Yesus hadir di hadapan Saulus mengubah cara berpikir dan cara hidupnya. Ia mau mengikuti perintah Yesus untuk bangkit dan terus berjalan bersama teman-teman seperjalanannya memasuki kota Damsyik.
Di ayat 9, Saulus masih bergumul dengan perbuatannya yang telah menyakiti hati Tuhan. Saulus menyadari akan keberdosaannya, ketidakberdayaannya dan kerapuhannya. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat, dan selama tiga hari itu ia tidak makan dan minum. Tetapi Yesus memiliki rencana besar dalam kehidupan Saulus.
Ayat 10-20, Yesus mengutus Ananias yang juga seorang murid Yesus untuk mengunjungi Saulus. Yesus memberitahukan Ananias bahwa Tuhan memiliki rencana yang besar bagi Saulus yaitu menjadi “Alat Tuhan” memberitakan nama Tuhan kepada semua orang. Ada banyak penderitaan yang harus ditanggung Saulus dalam perjalanan pemberitaannya, namun Tuhan Yesus juga yang akan menuntunnya. Lalu berangkatlah Ananias menjumpai Saulus dan memulihkan penglihatannya. Saulus dibaptis dan tinggal beberapa waktu lamanya ia tinggal bersama orang-orang Kristen di Damsyik.
Iman yang bertumbuh dalam perjalanan iman Saulus, maka ia menyatakan “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal. 3: 28). Keyakinan dalam iman kepada Kristus yang meneguhkan langkah Saulus untuk pergi memberikan tentang Yesus adalah Anak Allah dan keselamatan dari pada-Nya.
Aplikasi:
Tuhan telah mengubah hidup Saulus secara total. Perjumpaan Saulus dengan Tuhan dalam perjalanannya menuju Damsyik, mau memberi kita pelajaran bahwa perjumpaan dengan Tuhan memberi memulihkan jiwa dan meneguhkan hati. Kita semakin memaknai akan panggilan Tuhan dalam hidup ini. Respon akan panggilan Tuhan harus dinyatakan dalam pembaharuan iman. Iman yang bertumbuh bukan hanya pada pengenalan akan firman Tuhan, tetapi juga dapat memperkenalkan dan menyatakan kasih Tuhan itu kepada sesama. Untuk itu, titik balik kehidupan tiap orang percaya ada pada kepekaan akan panggilan Tuhan. Berani untuk melepaskan kehidupan lama, untuk memulai kehidupan baru bersama Tuhan. Percayakan hari depan pada pernyertaan-Nya maka Tuhan melapangkan jalan orang-orang pilihan-Nya.
Penutup:
Menghayati perjalanan penuh derita yang di alami oleh Yesus menjelang kematian. Seringkali, kita pun menghianati Yesus, meninggalkan Yesus, menganiaya Yesus dengan tindakan kita. Tanpa kita sadari, ketika kita membenci sesama kita itu artinya kita juga sedang membenci Tuhan. Oleh karena itu, nyatakanlah pertobatan yang total dalam hidup dengan setia bersaksi dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Amin.[*]
Penulis: Vic. Belandina Lia Yiwa, S.Si.Teol