Kebangkitan Iman yang Memulihkan (Lukas 8:40-48 )

Kuasa Ilahi dalam diri Tuhan Yesus menarik perhatian banyak kalangan  untuk mengenal, mengetahui kuasa-Nya dari mana serta ingin mendapatkan jamahan kuasa yang memulihkan kehidupan ini. Kehadiran-Nya untuk menyatakan belas kasihan Allah atas dunia yang penuh penderitaan dibuktikan dengan tindakanNya yang mengherankan.

Yesus mendemonstrasikan hadirnya kerajaan Allah  yaitu menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat, melenyapkan berbagai kelemahan serta menghidupkan orang mati. Kuasa yang tidak di miliki oleh Yairus seorang kepala rumah ibadat membuatnya harus tunduk sujud kepada Yesus agar anaknya yang hampir mati dapat di selamatkan.

Bagi Yairus sang kepala rumah ibadat, menghadirkan Yesus di rumahnya tentu bukan perkara susah, karena kuasa jabatannya tentu dengan mudah ia dapat menjumpai Yesus yang terjebak dalam kerumunan dan dalam persoalan banyak orang yang harus diselesaikan. Tapi bagi si miskin yang yang telah menjerit selama 12 tahun dalam derita tiada akhir, siapakah yang mau menolong? Adakah yang peduli bahwa ia juga adalah anak-anak Israel yang harus mendapat jamahan Tuhan?

Jamahan Tuhan tentunya adalah sikap Iman  yang dinantikan semua orang. Jamahan yang memulihkan sakit penyakit, memulihkan perekonomian yang gonjang ganjing, memulihkan hubungan sosial yang retak, dan yang terutama memulihkan manusia dari kehancuran karena dosa.

Menantikan jamahan Tuhan tentu adalah pengalaman iman  yang menuntut kita untuk bersabar karena waktu Tuhan  tentunya bukan waktu kita. Tetapi menjamah jubah Tuhan adalah tindakan iman yang membawa perubahan dalam hidup kita. Manakah yang harus kita pilih saat kita diperhadapkan pada persoalan yang menjerat kita dalam ketidakberdayaan? 

  1. Menanti jamahan Tuhan adalah sikap kehidupan yang menunjukan bahwa kita adalah milik Tuhan dan dalam menanti jamahan Tuhan seringkali kita terjebak pada sikap ketergantungan iman pada figur kerohanian (tokoh-tokoh rohaniawan) sehingga kita sulit untuk mengambil keputusan penting tentang langkah iman yang harus kita tempuh dalam mengikut Tuhan. Yairus hanya satu orang tapi  Yairus sang rohaniawan tempat berharap juga berada dalam masalah dan sumber penyelesaian masalah hanya Tuhan Yesus.
  2. Bertindak untuk menjamah jubah Yesus adalah sikap iman tanpa kompromi untuk menyelesaikan masalah tanpa mempersalahkan orang lain. Keinginan untuk pulih sekalipun tanpa seorang yang peduli dengan masalah kita  asalkan kita membangkitkan kekuatan iman untuk menjamah jubah Yesus.

Jubah adalah baju kebesaran seorang  pemimpin, dan kepemimpinan Yesus telah membawa dampak positif bagi sebuah perubahan. Tak ada seruan histeris, teriakan demonstrasi radikal, KKR menggentarkan nurani  untuk menghadirkan jamahan Tuhan.

Hanya dengan menjamah jubah Sang Mesias derita pun berahir. Berahir?

Tentunya penderitaan tidak berakhir tapi kuasa jubah Yesus yang sepertinya tidak berdampak pada masa kini. Pertanyaannya adalah siapa yang mau memakai jubah Yesus sang pemimpin yang melayani  agar kehadirannya membawa dampak bagi dunia?

Kita semua adalah pengikut Tuhan yang harus mengenakan jubah Yesus agar kehadiran kita memiliki dampak positif  bagi semua orang sehingga rencana Allah menjadi nyata di tengah-tengah kehidupan dimana Tuhan menempatkan kita berkarya. Amin.[*]

Penulis: Guru Injil Ebenhaeser Landu Amah

Bagikan ke: