Keakuan adalah pemicu terjadinya perpecahan, dalam keluarga Kristen tentu hal ini adalah ancaman serius yang bisa meruntuhkan persekutuan indah dalam keluarga, ditengah kehidupan sosial kemasyarakatan, kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan dalam kehidupan persekutuan kita sebagai gereja. Tentunya dalam memaknai bulan keluarga ini, kita perlu menempatkan kristus sebagai sebagai kekuatan kasih yang mengikat dan mempersatukan dan Paulus betul-betul menyadari hal itu sehingga ia menyampaikan nasihatnya tentang bahaya ego yang mengancam keberlangsungan hidup bersama yang harmonis.
Paulus melihat bahwa persekutuan jemaat di Filipi mengalami ancaman bukkan hanya dari luar tetapi terlebih dari dalam. Ancaman dari dalam muncul melalui nilai dan sikap negatif yang berkembang dalam diri anggota persekutuan jemaat di Filipi. Sikap negatif ini perlahan-perlahan menggerogoti kesatuan jemaat dan mengancam pertumbuhan jemaat sehingga anggota jemaat rupanya mulai terjebak pada sikap egoisme yang kuat. Sikap egoisme ini digambarkan oleh Paulus dengan ungkapan, “hidup dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji pujian yang sia-sia”. Dari pemaknanan ini kita dapat memberikan kesimpulan sederhana mengenai pandangan Paulus yaitu egoisme adalah sikap yang mengutamakan diri sendiri dan hidup dalam kebanggan yang kosong dan egoisme juga adalah jiwa dari sebuah perselisihan atau pertengkaran.
Apa yang ingin Paulus katakan kepada jemaat di Filipi ketika ia menghubungkan persoalan ego ini dengan keteladanan Tuhan Yesus?
Paulus ingin mengajarkan kepada mereka untuk memiliki keberanian atau kerelaan hati melepaskan hak atau menempatkan hak dibawah kendali prinsip iman yang penuh perendahan diri, sebagaimana Tuhan Yesus melepaskan hak kesetaraannya dengan Allah.
Kata kesetaraan tentunya penting untuk dimaknai dalam konteks jemaat Filipi maupun dalam konteks kekinian. Bagi masyarakat di Filipi, kesetaraan menunjuk pada sebuah status dan hak yang sama. Sebagai contoh orang Filipi akan merasa bangga apabila memiliki status kewarganegaraan romawi.
Kesetaraan sebagai warga negara romawi akan berimbas pada status dan hak mereka baik secara politik, ekonomi, dan sosial. Dengan kesetaraan ini kehidupan mereka akan mendapatkan jaminan yang utuh. Tidak heran kalau mereka berjuang dan mengejar kesetaraan ini. Oleh karena itu dapat dimengerti mengapa kepada jemaat di Filipi Paulus mengtakan, ’’… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.’’
Melalui prinsip ini Paulus hendak menunjukkan bahwa Tuhan Yesus yang berhak mendapatkan penghormatan namun ketika berada dalam dunia ini justru melepaskan haknya demi sebuah karya keselamatan bagi manusia berdosa.
Dari Firman Tuhan ini, kita sebagai keluarga Kristen diajak dan didorong untuk meneladani sikap Tuhan Yesus yang tidak mengejar kemuliaan dan kehormatan melainkan Ia melepaskan hak kemuliaan dan kehormatannya dan mengambil rupa seorang hamba. Keluarga Kristen diajak untuk tidak semata terarah bagi diri sendiri dan kepentingan keluarganya saja tetapi juga panggilan untuk karya keselamatan bagi orang lain.
Setiap anggota keluarga Kristen diajak untuk bertanggung jawab akan kehidupan orang lain. Dalam tanggung jawab itulah kita belajar melepaskan status terhormat atau termulia dan rela untuk belajar pada Yesus serta hidup dalam kepedulian dan kerendahan hati dengan menempatkan orang lain menjadi utama. Sikap seperti inilah yang pada akhirnya akan membawa sukacita persekutuan dalam keluarga. [*]
Penulis: Guru Injil Ebenhaeser Landu Amah