Dalam menghayati kasih karunia Tuhan, maka orang-orang Kristen dapat beribadah kepada Tuhan setiap hari. Namun ibadah hari Minggu memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam ayat 2 bacaan pada kalimat: “Pada hari pertama tiap-tiap minggu”, ini menunjuk pada hari Minggu di mana orang-orang percaya berkumpul (beribadah kepada Tuhan).
Penggalan kalimat yang disebutkan oleh Paulus dalam ayat 2 ini dapat kita bandingkan dengan ayat-ayat yang lain dalam Alkitab, seperti dalam Injil Yohanes 20:1-29, tentang kebangkitan Yesus dari kematian-Nya, khususnya ayt. 1, 19 & 26. Dalam Yohanes 20: 1 dikatakan: Pada hari pertama minggu itu, kemudian dalam ayat 19 dikatakan: Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat, lalu pada ayat 26 dikatakan: Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu.
Apa yang dikatakan dalam Yohanes 20:1 menunjukkan hari bangkitnya Yesus (Hari Kebangkitan). Dan apa yang disebutkan dalam ayat 19 & 26 menunjukkan bahwa Yesus yang tlah bangkit hadir dalam persekutuan para murid dengan mengatakan: Damai sejahtera bagi kamu. Dalam bagian yang lain seperti dalam Kisah Para Rasul 20:7 juga dikatakan seperti ini: Pada hari pertama dalam minggu itu. Ini memberi kesan bahwa orang-orang percaya selalu berkumpul. Jelas bagi kita bahwa ungkapan “Hari pertama minggu itu” seperti dalam Yohanes 20:1, 19 & 26 itulah yang menjadi dasar utama untuk beribadah pada hari Minggu sebagai hari kebangkitan Yesus.
Untuk lebih jelasnya kita juga perlu mengetahui arti kata “Minggu”. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Minggu merupakan hari pertama dalam jangka waktu satu minggu. Hari Minggu adalah nama yang diambil dari bahasa Portugis yaitu Domingo yang berarti hari Tuhan kita. Dalam bahasa Melayu dipakai kata Dominggu, dan sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 kata ini disebut sebagai Minggu. Bagi orang-orang Kristen maka hari Minggu sama dengan hari Tuhan atau hari kebangkitan (bdk. Kidung Jemaat 21 & Kidung Jemaat 191). Istilah hari Minggu secara resmi dimulai pada abad ke-2 masehi.
Sebelumnya, orang-orang Yahudi membedakan hari-hari dalam Seminggu dengan ungkapan “Hari Pertama, Hari Kedua, dst sampai dengan Hari Ketujuh atau Hari Sabat”. Dan pada tahun 321 kekaisaran Romawi secara resmi mengakui hari Minggu sebagai hari beribadah bagi orang-orang Kristen, juga hari Minggu dapat disebut Hari Perhentian.Sekarang menjadi jelas bagi kita bahwa apa yang dikatakan dalam bacaan 1 Kor. 16: 1 – 4 di mana orang-orang percaya telah beribadah pada Hari Minggu pada zaman para rasul.
Dalam Ibadah Hari Minggu ada Himbauan Paulus untuk mengumpulkan persembahan untuk membantu orang-orang Kristen yang ada di Yerusalem yang sedang mengalami kesukaran hidup. Orang-orang Kristen di Korintus diharapkan supaya memberi dengan apa yang ada pada mereka, memberi dengan suka cita, dengan rela hati dan bukan dengan terpaksa (Bdk. 2 Kor. 9: 7).
Dengan bacaan ini kita belajar untuk memahami makna Hari Minggu dan hal memberi persembahan. Tuhan memberikan 6 hari untuk bekerja dan hari Minggu sebagai hari beribadah. Dapat kita perhatikan selama ini bahwa sebenarnya ada banyak orang Kristen yang abaikan Hari Minggu dengan berbagai alasan. Dapat kita menilai seperti apa zaman kita sekarang ini, sebenarnya sedang terjadi krisis terkait dengan ibadah Hari Minggu dan ibadah-ibadah lainnya.
Contoh dalam sebuah jemaat yang besar dengan warga ribuan orang seperti GKS Jemaat Payeti, ada berapa orangkah yang setia beribadah? Kalaupun setia beribadah pada hari Minggu ternyata masih ada saja orang yang tidak memberi persembahan, dan menganggukkan kepala saat tangguk Kolekte diedarkan. Ada juga yang tidak beribadah dengan alasan tidak ada uang persembahan, dsb.
Dengan firman Tuhan yang kita baca hari ini kita harus bertobat dan belajar memahami dan menghayati hari Minggu sebagai hari Tuhan. Yesus sudah mati dan bangkit untuk keselamatan kita. Dalam ibadah hari Minggu kita berkumpul bersama dengan semua saudara seiman untuk beribadah kepada Tuhan sambi mengingat betapa besar kasih Tuhan dalam kehidupan kita.
Demikian juga dalam hal memberi persembahan pada ibadah Hari Minggu, kita memberi persembahan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya. Kita akan memberi persembahan yang terbaik kepada Tuhan dengan apa yang ada pada kita. Dalam memberi persembahan harus hati-hati, jangan sampai memberi persembahan dari uang hasil curi, hasil judi, hasil korupsi, dsb. Dalam memberi persembahan bukan masalah banyak atau sedikitnya persembahan melainkan motivasi hati dalam memberi, yaitu dengan hati yang tulus karena mengasihi Tuhan.
Sebagai contoh, Yesus memberi penilaian bahwa persembahan seorang janda miskin yang nilainya sangat sedikit, justru itu yang lebih banyak dari pada persembahan orang-orang kaya atau orang-orang yang berkelimpahan (Markus 12:41-44). Jadikanlah seluruh hidup dan kerja kita sebagai ibadah yang menyenangkan di hadapan Tuhan dan sesama, ingat dan kuduskanlah hari Minggu dengan setia beribadah serta memberi persembahan dengan suka cita berdasarkan apa yang ada pada kita.[*]
Penulis: Pdt. Mandina Lanjalay, S.Th