Dalam surat Paulus yang ke-2 kepada Timotius, ada nasihat-nasihat dan peringatan kepada Timotius sebagai guru dan pemberita kabar baik dari Allah. Inti nasihat Paulus secara pribadi supaya Timotius tabah atau sabar dalam melaksanakan tugasnya di masa yang sangat sukar. Dalam bacaan kita perhatikan ada peringatan kepada Timotius tentang keadaan manusia pada akhir zaman sebagai masa yang sukar. Masa yang sukar itu diwarnai oleh tingkah laku manusia yang semakin bobrok dan busuk. Pada satu sisi mereka disebut sebagai orang-orang yang beragama namun pada sisi yang lainnya justru mereka makin jahat.
Dalam ayat 2-4 disebutkan daftar dosa yang mewarnai kehidupan manusia: mencintai diri sendiri, menjadi hamba uang, membual, menyombongkan diri, menjadi tukang fitnah, memberontak kepada orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak peduli agama (membenci hal- hal yang rohani), tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka berkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
Yang menjadi akar masalah sehingga manusia makin bejat disebutkan dalam ayat 5: bahwa secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatan-Nya. Ini berarti bahwa sebagai orang-orang yang beragama secara lahiriah menjalankan kewajiban agama namun menolak inti dari pada agama itu sendiri. Jelas di sini menggambarkan kebobrokan moral atau kejahatan yang sangat mengerikan dalam lingkungan gereja dan mereka menolak kebenaran dan kekuasaan Injil.
Dalam bacaan ini ada contoh dari Perjanjian Lama tentang orang-orang yang melawan atau menolak Musa, yaitu Yanes dan Yambres (Bdk. Kel. 7:11). Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Yanes dan Yambres adalah nama yang diberikan kepada para ahli sihir yang disebutkan dalam Keluaran 7. Mereka disebut sebagai alat-alat setan dan menjadi musuh dari kebenaran. Nampaknya mereka sebagai orang-orang yang beragama namun lebih mengutamakan kasih kepada diri sendiri dari pada kasih akan Allah. Kelihatannya mereka menghormati Allah namun mereka berpura-pura saja atau munafik.
Bagi kita maka bacaan 2 Timotius 3:1-9 sebagai peringatan juga supaya kita sadar dan mampu untuk menghayati ibadah yang menyenangkan di hadapan Tuhan, supaya kita mengerti dan dapat memaknai ibadah itu secara benar dan utuh. Sebagai contoh: betapa seringnya kita terlibat dalam ibadah-ibadah selama ini, baik pribadi maupun bersama-sama. Kita dapat beribadah di rumah, di tempat ibadah resmi (gedung gereja), di pantai atau di padang, dsb. Seharusnya ibadah-ibadah kita dapat menghasilkan tingkah laku yang benar, baik berhubungan dengan Tuhan maupun dalam hubungan dengan sesama.
Dari bacaan ini kita dapat melihat kembali pengalaman hidup beribadah selama ini jangan sampai kehidupan kita semakin jahat karena jauh dari kebenaran, jangan sampai tingkah laku kita seperti yang digambarkan dalam ayat 2-4. Dengan menghayati bahwa hidup adalah anugerah Tuhan maka kita harus sadar dan bertobat, dapat memahami bahwa yang paling mendasar dari ibadah ialah pelayanan atau pengabdian seutuhnya kepada Tuhan, yang dapat dinyatakan baik dalam bentuk penyembahan maupun dalam tingkah laku sehari-hari. [*]
Penulis: Pdt. Mandina Lanjalay, S.Th