Dengan memperhatikan kisah pelayanan Yesus dalam perjumpaan dengan orang- orang Farisi, selalu ada pertentangan. Dalam perikop bacaan ini tentang perintah Allah dan adat istiadat Yahudi memperlihatkan pertentangan satu sama lainnya tentang hakikat agama yang benar. Adat istiadat Yahudi merupakan ajaran manusia dan ini sangat berbeda dengan ajaran Yesus sebagai perintah Allah. Adat istiadat Yahudi adalah tradisi dari mulut ke mulut yang berasal dari rabi-rabi besar dan ini dianggap sama berkuasanya dengan Hukum Taurat.
Membasuh tangan merupakan keharusan bagi imam-imam untuk membersihkan diri dari yang najis seperti dalam Imamat 22:1-16. Orang-orang Farisi membuat sejumlah tradisi yang dimaksudkan untuk menjamin pelaksanaan hukum yang tertulis. Mereka berharap supaya Yesus dan murid-murid-Nya taat kepada peraturan-peraturan tentang kebersihan ritual. Bagi orang-orang Farisi, bahwa murid-murid Yesus yang tidak membasuh tangan sebelum makan dinilai telah melanggar adat istiadat nenek moyang mereka (ayt. 2).
Hal penting yang dapat kita perhatikan dalam bacaan ialah sikap atau jawaban Yesus seperti dalam ayat 3-9. Yesus memberikan alasan bahwa kadang-kadang tradisi mereka menyebabkan pelanggaran hukum. Yesus memberikan contoh tentang perintah untuk menghormati orang tua, bahwa apa yang seharusnya diberikan kepada orang tua, ternyata tidak lagi diberikan dengan alasan telah dipersembahkan kepada Allah.
Di sini Yesus menilai kelakuan mereka sebagai orang-orang yang munafik dengan mengutip Yesaya 29:13. Kemudian dalam ayat 10-20 Yesus memberikan penegasan tentang kehidupan ibadah yang benar, bahwa bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan orang. Ini berarti bahwa dalam ajaran Yesus, membasuh tangan sebelum makan penting, tetapi yang paling penting dan utama ialah hati yang bersih, bahwa apa yang keluar dari mulut berasal dari dalam hati. Dari dalam hati muncul segala yang jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencarian, sumpah palsu dan hujat.
Dengan firman Tuhan ini kita belajar memahami kehidupan kita sebagai milik Tuhan Yesus. Kehidupan kita yang najis, kotor atau penuh dengan dosa telah dibasuh oleh darah Yesus. Kita dapat menghayati bahwa hidup adalah anugerah Tuhan, hidup kita seutuhnya sebagai ibadah yang benar di hadapan Tuhan.
Pikiran, hati, ucapan dan tingkah laku yang benar itulah ibadah yang menyenangkan di hadapan Tuhan. Segala pikiran, segala ucapan dan tingkah laku yang benar harus berasal dari hati yang tulus. Betapa pentingnya untuk menjaga hati dengan firman Tuhan dan dengan kuasa Roh Kudus. Bila hanya Roh Kudus yang menguasai hati maka segala yang baik dari dalam hati akan nampak melalui ucapan dan tingkah laku. Kemunafikan bisa nampak apabila lain di pikiran, lain di hati, lain di mulut dan lain yang dilakukan.[*]
Penulis: Pdt. Mandina Lanjalay, S.Th