Beragama yang Benar (Matius 12:1-14)

Bacaan kita ini sangat menarik untuk kita pelajari seputar pekerjaan murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat dan pekerjaan Yesus yang menyembuhkan orang pada hari Sabat.

Dalam bacaan kita, perikop pertama dan kedua ini mengemukakan tentang adanya pertentangan antara dua macam sikap beragama. Orang-orang Farisi, yaitu sebagai pemuka agama pada zaman Yesus, mereka sangat menekankan aturan-aturan dan bentuk-bentuk upacara peribadahan. Kesetiaan untuk taat terhadap kekudusan hari Sabat, mereka mutlakkan yaitu larangan untuk bekerja pada hari Sabat sesuai dengan hukum ke-4 dalam Sepuluh Hukum Tuhan.

Kita dapat perhatikan sikap Yesus dalam bacaan ini, dalam berhadapan dengan orang-orang Farisi, Yesus mengungkapkan tentang yang benar, yaitu isi dari keberagamaan yang benar dengan mengutip Hosea 6:6, seperti dalam ayat 7. Dalam Hosea 6:6 dikatakan: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Sekaligus Yesus di sini menegaskan bahwa Yesus yang berkuasa atas hari Sabat (ayt.8). Demikian halnya dalam perikop kedua, Yesus memberi makna baru tentang hukum Taurat, di mana Yesus membenarkan tindakan-Nya yaitu berbuat baik pada hari Sabat dengan menyembuhkan orang sakit.

Dengan bacaan ini, kita dapat memahami dengan benar tentang sikap agama yang benar menurut Yesus. Dalam penilaian Yesus maka sikap beragama orang-orang Farisi adalah munafik, yang beragama secara formal dan terikat secara kaku pada aturan-aturan agama. Dalam bagian yang lain seperti dalam Matius 5:20, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga.

Kalau demikian, bagaimanakah dengan kita? Sebagai agama Kristen Protestan bagaimanakah dengan sikap beragama kita selama ini? Contoh dalam ibadah hari Minggu, kurang lebih kita beribadah selama 2 jam disetiap tempat ibadah. Saat beribadah kita duduk tenang dan sopan dalam mengikuti tata ibadah yang ada, atau mungkin saja ada yang berpendapat bahwa hari Minggu hari yang kudus dan tidak boleh berkerja dsb. Terkesan kalau hari Minggu, kita dengan penuh hormat dan takut akan Tuhan untuk beribadah, lalu pada minggu kerja yang baru yaitu hari Senin sampai hari Sabtu apakah tetap hidup dalam kekudusan dan kebenaran?

Dengan firman Tuhan hari ini, ada kritikan buat kita, jangan sampai selama ini sikap beragama kita seperti kebenaran orang-orang Farisi pada zaman Yesus yaitu kebenaran palsu dan munafik karena tidak menghasilkan sikap yang benar, atau jangan sampai gereja telah menjadi lembaga keagamaan yang hidupnya jauh dari kebenaran.

Sekaligus dengan firman Tuhan ini Yesus mengajak kita supaya memiliki sikap beragama yang benar setiap hari, supaya kita menguduskan setiap hari, baik hari Minggu maupun hari Senin sampai Sabtu. Sebagai 2 pengikut-pengikut Yesus, kita mau menghayati bahwa hidup adalah anugerah Tuhan, sehingga melalui Tritugas panggilan kita, yaitu Bersekutu, Bersaksi dan Melayani, kita meneladani Yesus untuk selalu berbuat baik, hidup kita senantiasa diwarnai oleh belas kasihan setiap hari.[*]

Penulis: Pdt. Mandina Lanjalay, S.Th

Bagikan ke: