Bagaimana rasanya menghadapi penderitaan? Tidak mengenakkan bukan? Setiap dari kita pernah menderita. Keberadaan orang percaya, tidak dapat lepas dari yang Namanya penderitaan. Penghiburan dari Rasul Petrus juga menunjukkan adanya penderitaan yang dialami oleh orang percaya. Rasul Petrus menunjukkan kepada mereka mara bahaya dari seorang musuh lebih kejam daripada orang- orang yang paling jahat sekalipun. Rasul Paulus menasihati mereka tentang pentingnya bersabar dibawah penderitaan.
Diawal bacaan ini rasul Petrus menyapa dengan ramah orang-orang Kristen yang dibenci ini karena percaya kepada Yesus kristus dengan kalimat saudara-saudara yang kekasih(12) agar mereka tidak terkejut atau kaget karena meskipun penderitaan itu terasa amat berat, namun hanya dimaksudkan untuk menguji bukan untuk menghancurkan mereka.
Sebaliknya, mereka seharusnya bersukacita di dalam semua penderitan mereka itu. Setelah berbicara tentang pencobaan yang berat, Rasul Petrus beralih ke tingkat penderitaan yang lebih rendah yakni perihal lidah yang akan menista dan memfitnah (ayat 14). Mereka akan dicerca, dijelek-jelekkan, dan difitnah karena nama Kristus . karena itulah sekali lagi Rasul Petrus menegaskan berbahagialah. Karena kamu memiliki Roh Allah untuk menguatkan dan menghiburmu.
Sebagai orang percaya baik sebagai pribadi maupun persekutuan tidak lepas dari yang Namanya penderitaan. Ada hal yang tidak boleh kita tinggalkan dalam menghadapi penderitaan itu, yaitu hidup penuh dengan komitmen dengan sehati dalam doa bersama-sama.
Mungkin ada yang beralasan bahwa kami sudah membawa persoalan dan penderitaan dalam doa di setiap kali ibadah. Hal itu belumlah cukup. Bukan hanya sekedar doa syafaat dalam ibadah minggu, ibadah-ibadah PART seperti ini atau ibadah-ibada yang lainnya.
Tetapi harus komitmen dengan doa secara bersama keluarga ataupun ada waktu pribadi yang khusus untuk membawa segala persoalan dan penderitaan kita kepada Tuhan. Dengan doa itu kita akan diberikan kesabaran oleh Allah Bapa Kita RohNya yang kudus akan memampukan kita untuk bertahan. AMIN.
Penulis: Silke Rambu B. Noti (Mahasiswa Praktek)