HIDUP BERHIKMAT (YAKOBUS 3:13-18)

Mengawali Pemahaman Alkitab Rumah Tangga di Bulan September ini, kita akan sama- sama belajar dari Surat Yakobus tentang bagaimana hidup berhikmat yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Bagian ini ditulis oleh Yakobus adalah dalam rangka menyoroti cara hidup jemaat yang pada waktu itu berlaku tidak sesuai dengan ajaran yang benar. Mereka terpengaruh dengan pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh beberapa orang pemimpin gabungan yang berpikir bahwa mereka diberikan hikmat dan memiliki pengertian yang lebih baik dari orang lain. Namun yang terjadi adalah justru pengajaran dan perkataan merekalah yang menyebabkan perpecahan dalam jemaat. Itulah sebabnya sehingga pada bagian ini Yakobus mengawalinya dengan sebuah pertanyaan: Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? (ayt. 13).

Kalau kita simak pertanyaan yang ada, maka pertanyaan yang diajukan oleh Yakobus ini sesungguhnya merupakan sebuah pertanyaan retorika, yaitu pertanyaan yang tidak harus dijawab secara definisi melainkan merupakan sebuah tantangan yang mana bagi mereka yang merasa memiliki kebijaksanaan dan pengertian harus mendemonstrasikannya melalui bentuk-bentuk perbuatan yang nyata. Artinya bahwa dengan pertanyaan ini mendorong mereka yang merasa bijak dan berpengertian untuk menunjukkan dengan perbuatan bahwa mereka telah menerima karunia kebijaksanaan.

Yakobus menegaskan agar mereka yang bijak dan berpengertian memperlihatkan sikap itu melalui cara hidup setiap hari. Dan jikalau dalam kehidupan mereka masih menunjukkan sikap-sikap yang tidak berpadanan atau tidak sesuai dengan perbuatan-perbuatan sebagai seorang yang bijaksana dan berpengertian, yaitu masih hidup dalam perasaan iri hati dan mementingkan diri sendiri, maka jangan pernah membanggakan diri karena perbuatan-perbuatan tersebut melawan kebenaran (ayt. 14). Dan itu semua bukanlah hikmat yang datang dari Tuhan melainkan dari dunia, dari nafsu manusia dan dari setan-setan (ayt. 15).

Oleh karena itu dengan tegas Yakobus mengatakan; Jangan pernah berbicara tentang penghakiman Allah, jangan pernah mengkalim karunia dari Allah, bahkan berpura-pura mengenal kasih Allah kalau hal itu tidak ditunjukkan dalam hidup sehari-hari terhadap sesama.

Sebab semua pernyataan meninggikan diri tersebut hanyalah sebuah kebohongan dan pelanggaran terhadap kebenaran. Sebaliknya sikap hidup yang sungguh-sungguh berasal dari Allah atau buah yang benar dan pengenalan akan Allah ialah menampilkan kehidupan yang rendah hati, mengosongkan diri dan tidak membesar-besarkan diri. Dengan demikian maka menurut Yakobus, prinsip yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya adalah “Tindakan mencerminkan sikap seseorang” … bahwa adalah lebih pentiing untuk memiliki hikmat yang dari atas dari pada hikmat palsu yang dapat menghancurkan iman jemaat.

Sebab ketika hikmat yang dari atas itu bekerja dalam kehidupan orang percaya, maka hikmat tersebut akan membuahkan kebajikan yang bertalian dengan kebajikan yang lain, dan tanda yang pertama dan yang utama dari hikmat yang dari atas adalah “kemurnian” yang merupakan karakter Allah sendiri. Oleh karena itu, menurut Yakobus, orang yang suci dan murni adalah orang yang bebas dari cacat moral dan spiritual.

Tentang bagaimana seseorang menjadi murni dalam hal moral dan spiritual tersebut, Yakobus menegaskan agar senantiasa menjauhkan diri atau memisahkan diri dari pencemaran hikmat dunia, yaitu pengaruh-pengaruh buruk yang dapat mempengaruhi imannya. Dalam ayat 16 dengan jelas dikatakan: “di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Semua hal ini tentu merupakan dampak dari hikmat dunia, dan itu tidak boleh terjadi dalam kehidupan orang-orang percaya.

Hal terakhir yang disampaikan Yakobus melalui perikop ini ialah tentang menabur dalam damai (ayt. 17b-18). Artinya bahwa setiap orang percaya mutlak untuk menunjukkan perbuatan-perbuatan yang benar, yaitu hidup dalam saling mengasihi, saling menopang, dan saling menerima, tidak memihak dan tidak munafik, yag semua itu ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. Hal ini menghantarkan kita untuk kembali mengingat akan buah-buah Roh seperti yang disampaikan Rasul Paulus dalam Galatia 5:22-23.

Namun Pertanyaannya adalah “Adakah kita sudah hidup sesuai dengan arahan dan nasihat yang disampaikan oleh Yakobus ataukah hanya terbatas pada ucapan bibir saja?” Hal yang jelas dan pasti, bahwa dari bacaan kita saat ini, Yakobus mau mengarahkan kita untuk menjadi orang Kristen yang hidup sebagai orang-orang berhikmat yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata.

Penulis: GI. Lodowyk Migu

Bagikan ke: