Dalam hidup ini, setiap orang pasti memiliki cita-cita khusus yang membuat orang lain mudah mengenalinya, bisa melalui suaraNya, bisa melalui pergaulannya atau juga melalui penampilan dan sebagainya. Demikian halnya dengan orang Kristen sebagai pengikut Kristus. kita harus memiliki ciri khas yang khusus, yaitu hidup dalam kasih. Bahwa dengan kasih yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari maka orang akan mengatakan: “Oh, dia orang Kristen”. Dan adapun yang menjadi alasan mendasar mengapa kita harus mengasihi dan siapa yang harus kita kasihi, Firman Tuhan saat ini memberikan jawaban serta penjelasan yang sesungguhnya, yaitu:
Kita mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita (ayt. 9-10).
Tatkala Tuhan Yesus menasihati atau memerintahkan para pengikut-Nya untuk hidup dalam saling mengasihi, bukan berarti agar mereka diberkati atau memperoleh keselamatan, melainkan sebagai tanda atau respon atas kasih yang telah mereka terima dari Allah. Dengan demikian, maka mengasihi dalam pengertian Yesus di sini adalah bukan supaya orang lain mengasihi kita atau bukan karena orang lain mengasihi kita, namun sebagai orang Kristen kita harus mampu mengasihi siapapun tanpa memandang status sosial dan latar belakang mereka. Sebab orang yang hidup dalam kasih yang bersumber dari Allah akan mendapat keistimewaan dengan tinggal di dalam kasih Tuhan, sama seperti Yesus yang tinggal di dalam kasih BapaNya.
Dengan mengasihi ada berkat yang diperoleh
- MendapatsukacitapenuhyangbersumberdariTuhansendiri.Yesusmenjanjikansukacitabagi setiap orang yang hidup dalam kasih dan sukacita tersebut adalah sukacita yang bersumber dari Allah yang merupakan buah dari Roh Kudus. Karena itu Yesus menegaskan bahwa sukacita akan menjadi penuh tatkala di dalam kita ada sukacita Tuhan. Dan untuk hal itu Yesus meminta agar kita hidup dalam saling mengasihi sebagaimana Ia mengasihi kita.
- Dengan hidup mengasihi, kita akan dipilih dan ditetapkan menjadi sahabat-Nya (ayt. 13- 16).
Dalam tradisi Yahudi sangat gampang untuk membedakan antara Hamba dan Sahabat. Di mana seorang Hamba adalah seseorang yang bisa diperlakukan dengan sesuka hati oleh tuannya. Seorang hamba tidak memiliki apa-apa, tidak tahu tentang apapun yang dilakukan oleh sang tuan dan bahkan tidak berhak atas nyawanya sendiri.
Mereka (hamba) hanya mengabdi dengan penuh ketaatan kepada sang tuan. Sementara Sahabat adalah orang yang paling dekat, yang paling mengerti tentang pribadi kita, bahkan rela berkorban demi sebuah Persahabatan. Dan itulah yang dilakukan Yesus bagi kita. Yesus tidak hanya memberitahukan segala sesuatu yang Ia dengar dari Sang Bapa kepada kita, tetapi lebih dari itu, Ia rela mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan kita sebagai sahabat-Nya.
Jadi, jikalau Yesus memilih dan menetapkan kita menjadi sahabat-Nya, itu bukan karena kita sudah melakukan kebaikan tetapi karena kasih-Nya yang luar biasa. Oleh karena itu sebagai sahabat-sahabat Yesus maka kita harus melakukan dengan setia segala sesuatu yang diajarkan-Nya terutama hidup dalam kasih tanpa mencari keuntungan pribadi. Kita harus menjadi berkat dan saluran berkat bagi sesama sebagai wujud nyata dan kasih kita. Artinya tidak hanya sebagai konsep atau sebatas perkataan.
Mengasihi adalah perintah yang mutlak untuk diterapkan
Dalam ayat 17 kita dituntut untuk menjadi pribadi-pribadi yang aktif dalam menunjukkan identitas iman kita. Dan jikalau dalam ayat 17 Yesus kembali menegaskan: “Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain”, maka di dalamnya mengandung makna bahwa: Tidak ada batas dalam hal mengasihi. Yesus tidak ingin agar kita memilih dan memihak siapapun yang harus dikasihi, tetapi semua orang harus mendapatkan kasih yang sama, seperti yang Yesus teladankan. Dan melalui kasih yang nyata tersebut, nyata pula bahwa kita sudah tinggal di dalam kasih Tuhan, untuk itu tetaplah hidup dalam kasih.
Penulis: GI. Lodowyk Migu