Bicara mengenai teladan maka hal yang pasti adalah arah pikiran kita akan tertuju kepada satu sosok yang dianggap patut untuk dijadikan panutan baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Dan tidak menjadi soal apakah sosok tersebut ada hubungannya dengan kita atau tidak, berada di sekeliling kita atau tidak, tetapi hal yang pasti kita membutuhkan sosok seperti itu demi mencapai sebuah perkembangan yang lebih baik bagi kehidupan ke depan. Bahkan kalau kita kembali melihat dalam sejarah dunia ini, kita menemukan banyak sosok yang dinilai sebagai teladan/panutan paling tidak bagi diri kita secara pribadi.
Jika dalam hal duniawi (yang jasmani) saja diperlukan sosok yang patut untuk diteladani atau menjadi panutan, maka terlebih lagi dalam hal yang rohani atau yang berkaitan dengan sosok Iman. Itulah sebabnya di dalam Alkitab kita dapat menemukan banyak sosok yang layak diteladani dalam hari-hari hidup kita sebagai orang-orang percaya.
Secara khusus dalam bacaan kita saat ini menjelaskan bagaimana jemaat mula-mula menjadi panutan yang layak ditiru. Mereka sehati sejiwa bertekun dalam pengajaran Rasul-rasul di Bait Allah dan menjadi pribadi- pribadi yang sangat murah hati. Hidup berbagai menjadi gaya hidup sehari-hari. Bahkan Yusuf yang oleh Rasul-rasul disebut Barnabas menunjukkan satu tindakan nyata dalam hal berbuat baik, yaitu dengan menjual ladang miliknya lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul (ayt. 37).
Ini menunjukkan bahwa Hidup jemaat mula-mula telah menjadi teladan bagi kita tentang bagaimana seharusnya hidup kita sebagai orang percaya. Pertanyaannya ialah: Apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan sebagaimana diperlihatkan dalam kehidupan jemaat mula-mula?
Kalau kita mau jujur, sesungguhnya hari-hari ini ada banyak orang Kristen yang tidak menjadi teladan, jangan untuk menjadi saluran berkat, menjadi sesama yang hidup dalam saling berdamai saja, terkadang masih agak sulit ditemukan, apalagi melakukan tindakan seperti yang diteladankan Yusuf dalam bacaan kita saat ini dapat dikatakan hampir tidak ada. J
ika demikian halnya maka itu berarti kita belum menjadi teladan atau panutan. Untuk itu mari kita belajar dari kehidupan jemaat mula-mula. Kita mulai dari diri kita sebagai pribadi, kemudian sebagai keluarga. Kita berkomitmen untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan menjadi teladan dalam berbuat baik seperti jemaat mula-mula. Sehingga dengan itu, banyak orang yang datang dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tuhan memberkati kita dengan FirmanNya.
Penulis: GI. Lodowyk Migu