Mengakhiri Bulan September ini, kita sama-sama merenungkan nasihat-nasihat Rasul Paulus melalui bacaan kita saat ini, yang tentunya tidak saja berlaku bagi jemaat Tuhan yang ada di Roma, tetapi juga berlaku dalam kehidupan kita saat ini yang juga adalah orang-orang yang percaya dan berpengharapan kepada Yesus Kristus. Dan pada kesempatan ini kita akan merenungkan bagian ini di bawah Sub Pokok Bahasan: Bertekun Dalam Pengharapan.
Saya percaya bahwa kita semua yang ada pada persekutuan malam hari ini, sudah pernah mendengar istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu). Nampaknya, istilah ini tidak hanya terkenal karena singkat dan mudah diingat, melainkan karena memang pada kenyataannya semakin banyak orang yang dikecewakan karena harapan-harapan yang palsu. Namun demikian tidak membuat kita menjadi alergi terhadap yang namanya pengharapan. Teks bacaan kita saat ini akan menuntun kita untuk lebih dalam lagi dalam memahami pengharapan sejati yang tidak mengecewakan atau jauh berbeda dengan PHP. Ada 2 hal yang Rasul Paulus kemukakan dalam bacaan saat ini.
- Dalam ayat 1 dan 2 terlihat jelas bahwa harapan yang kita miliki bukanlah harapan palsu, bukanlah harapan yang mengecewakan karena ada bukti di mana di dalamnya dikatakan, “Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Yesus Kristus … bahwa Yesus Kristus telah mati dan bangkit untuk membenarkan kita (bdk. Pasal 4:23-25). Bahwa sekalipun kita semua berdosa dan tidak layak, namun kita dibenarkan. Jadi, jika semua manusia dibenarkan di hadapan Tuhan, maka itu merupakan wujud dari keadilan yang bersumber pada kasih karunia Tuhan. Oleh sebab itu, yang perlu dilakukan oleh manusia bukannya menghakimi dan menyalahkan orang lain yang dianggap pendosa, melainkan terus memelihara kasih karunia yang Tuhan berikan sembari mengucap syukur dan membuka pintu pengampunan bagi mereka karena menyadari bahwa tidak ada manusia yang tidak berdosa.
- Seorangyangberpengharapanbukanlahsosokyangantidengankesengsaraan. Dalam ayat 3-5, Rasul Paulus mengemukakan bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Jelas ini semua adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Sebab menurut Paulus, tantangan hidup adalah suatu kepastian. Dan jika kita mau hidup dalam pengharapan, itu berarti saat kita berjumpa dengan tantangan hidup maka jangan pernah menyerah dan mengeluh. Karena pengharapan kita adalah pengharapan yang pasti sebagaimana diuraikan dalam ayat 6-10. Kata “Pasti” yang disebutkan dalam ayat 9 & 10 merupakan jaminan bagi pengharapan kita di dalam Tuhan Yesus, sedangkan pada ayat 11, Rasul Paulus kembali menyimpulkan sekaligus menegaskan mengenai “Damai Sejahtera” dalam pengharapan. Maksudnya ialah bahwa pengharapan yang kita miliki membuat damai sejahtera itu hadir sekalipun kita harus berjumpa dengan aneka tantangan hidup. Ada jaminan bahwa apapun masalah yang dihadapi pasti ada jalan keluar, dan itu berarti perjalanan panjang kehidupan ini akan berakhir indah.
Inilah kasih karunia Allah yang patut untuk kita syukuri. Dengan demikian maka tidak ada lagi penghalang bagi kita untuk selalu bersyukur dan memuliakan Allah melalui tutur kata dan perilaku kehidupan di tengah aktivitas kehidupan sehari-hari. Selamat bertekun dalampengharapan bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Penulis: GI. Lodowyk Migu