Sub pokok bahasan “seruan kepada pertobatan” Seruan pertobatan sangat kita perlukan karena kita sering kali berdosa dan berubah setia. Jika kita berbuat dosa dan meninggalkan Tuhan, kita harus segera bertobat dengan sungguh-sungguh. Allah itu murah hati dan memberi pengampunan dengan berlimpah (Yesaya 55:7). Tuhan Yesus juga menyerukan pertobatan secara eksplisit dalam pelayanan-Nya (Matius 4:17). Ia rindu agar banyak orang mendengar firman dan memberi tanggapan. Bagaimana dengan Anda: Apakah kita telah menanggapi firman Allah dengan pertobatan yang sejati? Jangan permainkan kebesaran hati Tuhan dengan pertobatan yang palsu! (Roma 6:1-2).
Tobat adalah sebuah kata yang sangat sering kita dengar. Tidak hanya pada masa menjelang hari minggu, perayaan gerejawi seperti natal, terlebih saat kita akan menyambut Masa Paskah. Dalam masa penantian kedatangan Tuhan yang tentu saja mensyaratkan sikap tobat dari mereka yang ingin diselamatkan. Allah Bapa kita memang tidak pernah bosan mengajak manusia untuk bertobat. Saat manusia pertama jatuh dalam dosa, Allah tidak membuat mereka mati (Kej. 3 :3) melainkan hanya mengusirnya (Kej 3:23) dari Taman Eden agar manusia tetap hidup. Kita semua tahu bahwa maksud dari segala kemurahan Allah ini adalah untuk memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat (bdk Rm 2:4).
Kedua, seruan pertobatan yang terus menerus didengungkan sejatinya bukanlah sebuah himbauan, melainkan sebuah teguran sehingga mendesak untuk kita dilaksanakan segera. Maka, pertobatan bukanlah urusan besok atau lusa melainkan sekarang dan saat ini. Melalui sub poko bahasan kita belajar dari firman Tuhan kitab Yoel.
Yoel Bin Petuel adalah seorang nabi kecil yang nubuatnya juga sering disampaikan oleh nabii Amos. Nabi Yoel sendiri diperkirakan datang dari latar belakang imam yang bertugas disekitar Bait Allah.. Pada zamannya, nama Yoel adalah nama yang sangat umum di Israel, artinya Tuhan adalah Allah. Tulisan Yoel mengarah pada konsep hari Tuhan. Tulisan Yoel diperkirakan dituliis pada masa Israel berada dalam pembuangan atau sebelumnya. Pokok pikiran kitab ii sederhana, manusia atau umat perlu sadar akan adanya “tanda-tanda zaman” tentang hadirnya hari Tuhan dalam kehidupan. Simbolisme yang digunakan dalam nubuatan nabi Yoel memberi gambaran tentang terjadinya exploitasi dalam kehidupan umat Allah. Berbagai sumber penghidupan yang meli,mpah yang dimiliki oleh Israel, kini ludes akibat wabah belalang yang memakan habis segala hasil bumi. Wabah belalang yang memberangus sumber penghidupan Israel adalah symbol dari penjajah. Bencana ini dibaca sebagai tanda-tanda ”datangnya hari Tuhan”.
Melalui simbolisme tersebut Nabi Yoel mengajak umat Israel untuk berefleksi terhadap segala sesuatu yang telah mereka lakukan. Makna theologi tanda-tanda zaman adalah, bahwa pada zamannya “hari Tuhan sudah, sedang dan akan berlangsungg ditengah-tengah umat Israel”. Pertanyaannya adalah mengaps sampai terjadi hari Tuhan, berupa wabah belalang yang menyerang pertanian atau lingkungan hidup umat Allah? Mengapa pula wabah itu menyerang umat dan seperti apakah hari Tuhan yang digambarkan dalam nubuatan Yoel?
- Sumber hidup, yakni alam dan pertanian yang diserang habis oleh wabah belalang menjadi pertanda berlangsungnya perilaku hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Wabah belalang adalah lambang penjajahan. Perjanjian lama kerap melukiskan bahwa ketika kehidupan umat tidak seturut kehendak Allah maka akan muncul bangsa penjajah yang menjarah dan merampas habis kehidupan Israel. Bila Israel bertobat dan berseru kepada Tuhan, maka akan hadir “hakim” yang memimpin umat untuk lepas dari belenggu penjajahan tersebut.
- “Hari Tuhan” dipahami sebagai kondisi umat yang di eksploitasi oleh “belalang” sebagai lambing bangsa penjajah, namun puncak dari hari Tuhan adalah saat umat bebas dari belenggu “tulah belalang” oleh Tuhan melalui berbagai cara. Hari Tuhan merupakan suatu proses aktif dari suasana “gelap gulita/kelam kabut”(ayat 2 ) yang kemudisn beralih menjadi “seperti fajar” saat Tuhan memperdengarkan suaranya ( ayat 11)
Apakah umat Allah harus lebih dulu mengalami kondisi gelap gulita dalam kehidupan ataukah situasi hari Tuhan yang digambarkan oleh nabi Yoel, juga nabi-nabi yang lain, kini tengah di alami juga oleh bangsa kita? Bila ini sungguh terjadi, apakah yang harus dilakukan oleh setiap umat kepunyaan Allah?
Belajar dari pengalaman bangsa Israel ini, nabi Yoel menghimbau agar setiap pribadi apapun profesinya (para pelayan, para pejabat,warga jemaat dll),perlu melakukan puasa yang kudus dan bukan asal puasa, adanya suatu perkabungan/penyesalan, dan berteriaklah kepada Tuhan. Bila kita telah melakukan semua itu, maka hari Tuhan yang sejatinya merupakan puncak pergumulan umat akan berganti dari kabut gelap menjadi fajar terang yang bersinar dalam kehidupan kita. Perlu di ingat, ketika hidup umat kepunyaan Allah menyimpang dari jalan yang dikehendaki oleh Tuhan, maka hari Tuhan mulai berlaku di tandai dengan menghilangnya sukaria dan sorak sorai : syalom Allah. Namun manakala ada pertobatan maka fajar akan menyingsing. Dalam Tuhan selalu ada harapan, karena itu marilah kita selalu berseru kepadaNya. Amin. [*]
Sumber: Bahan PART