Sub pokok bahasan “ Menanggapi Janji Allah dengan Iman”Bagaimana cara kita menanggapi janji-janji Allah? Janji-janji-Nya tidak secara langsung bekerja di dalam hidup setiap orang yang mendengarnya. Ada orang yang menanggapi dengan benar, ada yang menanggapi dengan tidak benar. Ada yang menikmati penggenapan dari janji-janji itu, ada yang tidak mengalaminya. Menanggapi janji Allah adalah iman, termasuk di dalamnya untuk dapat mengalami janji-janji Allah dalam hidup ini.
Apa yang sudah dijanjikan Allah pasti akan digenapi-Nya. Namun, kita harus yakin bahwa kita berpegang pada firman Allah yang sesungguhnya saat kita mengklaim janji-Nya. Dengan demikian, kita memperoleh jaminan bahwa Allah akan melakukan atau memberikan apa yang dijanjikan-Nya. Iman itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa-apa. Iman hanya berdampak apabila dilandaskan pada janji yang gamblang dan jelas dari Allah. Di luar itu, yang ada hanyalah angan-angan belaka.
Contohnya sebagai berikut: Tuhan Yesus berjanji, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh. 15:7-8). Ayat-ayat itu tidak menjanjikan bahwa Allah akan menjawab setiap doa yang kita ucapkan. Namun, itu adalah janji bahwa Allah akan menanggapi setiap kerinduan kita untuk memperoleh kebajikan . Jangan menyerah. Teruslah meminta kepada Allah untuk menguduskan Anda. Pada waktu yang ditentukan-Nya, kita “akan menerimanya.” Allah tidak menjanjikan apa yang tidak akan digenapi-Nya.
Penanggapan janjji Allah kita di ajak belajar dari firman Tuhan ini, Kitab Kejadian adalah kitab pertama dalam Alkitab. Dalam bahasa Ibrani kitab ini disebut “Beresyit” yang berarti pada mulanya.
Ayat 1-6 berisi perjanjian tentang pemberian keturunan (Kej 12:1,2; 13:15-16). Perjanjian keturunan seperti yang tertulis dalam pasal 12:1, 2 di mana Allah berjanji akan memberikan sebuah bangsa yang besar kepada Abram.
Pada waktu itu Abram berumur 75 Tahun dan tidak mempunyai keturunan dijanjikan banyak keturunan. (Kej 12:4) Janji ini dikembangkan dalam Kej 17:6 di mana Allah menjanjikan bahwa bangsa dan raja akan berasal dari leluhur yang tua ini. Perjanjian keturunan ini juga berlanjut dalam perjanjian Daud dalam 2 Sam 7:12-16. Dari keturunan Raja Daud berujung pada kerajaan Allah di mana Yesus Kristus Sebagai Raja. (Kejadian 12:1,2).
Sedangkan ayat 7-21 berisi perjanjian tentang tanah (Kej 12:7; 13:14-17), Allah memanggil Abram dari Ur Kasdim untuk pergi ke tanah yang akan diberikan kepadanya. Janji ini diulang lagi dalam Kej 13:14-18, dan Abram harus berjalan mengelilingi batas tanah tersebut.
Perjanjian Abram adalah penting untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang konsep perjanjian. Sebab hubungan yang terjalin dengan Allah adalah hubungan perjanjian.
Cerita tentang Abraham dalam nats Kejadian 15 ini merupakan awal pemanggilan kepada manusia sebagai hambaNya agar menjadi berkat. Nama Abraham dikenal sebagai salah satu tokoh Perjanjian Lama, sosok seorang beriman. Karena kesetiaan dan komitmennya terhadap panggilan dan perintah Tuhan maka Tuhan menjanjikan berkat, harta, keturunan.Namun, di hari tuanya, Abram kembali dilanda ketakutan. Setelah ia berlelah mencari hartanya, menjelang ajalnya ia dirundung rasa takut. Ketakutan Abram adalah, siapa yang akan mewarisi harta yang didapatkannya dengan cucuran keringat sebab ia belum mempunyai keturunan, anak kandung yang layak menjadi ahli warisnya. Tuhan itu setia dengan janjiNya, bahwa Tuhan akan memberkatinya juga dengan keturunan. Tuhan bukan hanya menjanjikan seorang anak bagi Abram tetapi Tuhan memberikan keturunan sebanyak bintang-bintang di langit (Kejadian 15:1-6).
Bagaimana Abram bisa percaya bahwa Tuhan akan memberikan anak kepadanya melalui isterinya yang sudah tua? Sulit memang menerimanya secara logika. Tapi iman (percaya) memang bukan logika. Percaya berarti menyerahkan sepenuhnya kehidupan kepada yang dipercaya. Itulah ciri-ciri seorang yang beriman (Ibrani 11:1).Abram merespon perkataan Tuhan dengan percaya. Sikap iman percaya itu pula yang membuat Abram menjadi masyhur, ia kemudian dikenal sebagai Bapak orang percaya (beriman). Tuhan sungguh-sungguh memberi keturunan bagi Abram, Ishak dilahirkan dari isterinya Sara. Ishak juga menjadi orang percaya.
Keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub menjadi orang percaya. Kita juga terhisap menjadi orang percaya. Abram sungguh-sungguh memiliki keturunan seperti bintang di langit. Abram bukan hanya mewariskan harta dunia bagi keturunannya, tetapi lebih dari itu Abram mewariskan iman percaya kepada banyak orang, termasuk saudara dan saya. Kita telah menjadi orang percaya sebagai orang yang diselamatkan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus.
Memang rasa takut, khawatir muncul saat kita lemah dan berfikir sesaat, saat kita lupa pada janji, bimbingan, dan tuntunan Tuhan. Dalam masa-masa sulit kita sering berkeluh kesah, “Jika saja saya memiliki iman yang lebih besar!” Meskipun demikian dalam kehidupan sehari-hari kita menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah besarnya iman kita, tetapi objek dari iman itu sendiri. Misalnya, bila kita duduk di kursi, kita percaya bahwa kursi itu akan menopang kita. Kita beriman kepada kursi itu, bukan pada besarnya iman yang kita miliki.
Demikian halnya dengan Abraham karena ia memiliki iman kepada panggilan Allah yang memerintahkan supaya menuruti perintah, petunjuk, dan rencana Tuhan maka ia pun dipercayakan menjadi saluran berkat, kemudian ia menjadi pewaris, menjadi bapa orang percaya di jamannya hingga ke jaman Perjanjian Baru.Dewasa ini, kekhawatiran seperti yang pernah dialami dan dikeluhkan Abraham mungkin saja kita pernah mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Kita mungkin khawatir tentang apa yang akan kita makan dan nikmati jika musim penghujan karena takut banjir, longsor, rusak masa panen tanaman palawija. Tetapi, kenyataannya belum terdengar di sekitar kita ada yang meninggal karena busung lapar.
Berkat yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, karena itu hendaklah kita menjadi orang beriman agar berkat semakin Tuhan limpahkan kepada kita. Amin. [*]
Sumber: Bahan PART