Orang Bijak berkata, “Kamu bisa menberi tanpa mencintai, tapi saat kami mencintai, kamu pasti akan memberi”.
Kalimat ini menegaskan tentang kaitan erat antara pemberian dan cinta. Dalam pemberian nilai ekonomis (berapapun harganya) tak menjadi point pertimbangan, selama pemberian itu tulus dari hati dan menyukakan orang yang dicintai
Dalam pekan sengsara ke-3, bahan PART yang terambil dari Yohanes 12:1-8 mengisahkan tentang penyataan cinta dan pemberian Maria kepada Yesus yang terwujud dalam tindakan peminyakan kaki Yesus dan penyekaan dengan rambutnya. Namun apakah tindakan ini hanyalah murni tindakan cinta, penghormatan Maria pada Yesus? Ataukah ada makna lain yang tersirat didalamnya.
Pendalaman Teks
Ay. 1-2: Penulis Injil Yohanes tampaknya ingin menekankan bahwa kisah pengurapan Yesus oleh Maria terjadi di Betania saat menjelang hari Paskah dan sangat berhubungan dengan apa yang dialami oleh Lazarus. Kalau sebelumnya Betania diterangkan sebagai ‘kampung Maria dan adiknya Marta’ (11:1), sekarang Betania disebut ‘tempat tinggal Lazarus’ (12:1), seorang yang dibangkitkan oleh Yesus (11: 43) dan perjamuan itu diadakan dalam rangka syukur akan kebangkitan Lazarus. Sehingga tepat di ayat 2, penulis Yohanes menjelaskan kembali kondisi Lazarus yang telah dibangkitkan, ia sehat dan mengikuti perjamuan syukur bersama kedua saudaranya juga Yesus. Di awal cerita perjamuan makan, hanya nama Lazarus dan Marta yang muncul. Martha melayani Yesus sebagai tanda syukurnya karena saudaranya Lazarus dibangkitkan dan Lazarus menikmati kehidupan baru pasca kebangkitan dan makanan yang disediakan oleh Martha. Tidak ada Maria di sana. Hal ini memang disengaja, karena penulis Injil Yohanes ingin memberikan tempat khusus bagi Maria di ayat selanjutnya (12:3).
Ay. 3: Jika Martha merespon kebangkitan saudaranya dengan menyediakan perjamuan makan, berbeda dengan Maria. Maria merespons hal itu dengan sebuah tindakan yang luar biasa. Bukan hanya atas kebangkitan Lazarus, tetapi juga atas kasih Yesus yang besar bagi keluarga Maria. Maria rela mengorbankan sesuatu yang sangat berharga. Minyak wangi (myron) yang ia curahkan adalah dari jenis narwastu (nardos). Jenis ini berasal dari tanaman khusus yang ada di sebelah timur India, di daerah Himalaya. Minyak wangi narwastu hanya digunakan untuk proses peminyakan yang sangat khusus, misalnya pernikahan atau pemakaman yang spesial. Pendeknya, ini bukan parfum untuk acara pesta yang biasanya. Penulis Injil Yohanes juga menambahkan keterangan bahwa minyak narwastu ini adalah murni (pistikos) dan mahal (polytimos). Minyak yang berbeda dengan kebiasaan orang pada umumnya, kebiasaan beberapa orang pada waktu itu untuk memalsukan atau mencampur dengan bahan lain. Menilik tempat asal yang jauh dan kekhususan tanaman narwastu, harga yang mahal merupakan sesuatu yang sangat bisa dipahami. Kualitas kasih Maria tidak hanya tersirat dari jenis minyak yang diberikan, melainkan juga dari jumlah yang digunakan. Jumlah minyak itu adalah setengah kati (litra). Litra adalah satuan jumlah/berat dalam budaya Romawi yang kurang lebih setara dengan 0,3 liter. Menurut Yudas, minyak itu seharga 300 dinar. Upah pekerja sehari Rp. 60.000 maka harga minyak yang Narwastu adalah 300 x Rp. 60.000 = Rp. 18.000.000. Untuk ukuran parfum, jumlah ini jelas sudah sangat berlebihan. Penulis Injil Yohanes bahkan menceritakan bahwa Maria perlu menyeka lelehan minyak yang ada di kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya. Jika perlu diseka, itu pasti menyiratkan jumlah lelehan yang cukup banyak. Tidak heran, bau minyak semerbak di rumah itu. Bagi Maria tindakannya sangat wajar dibanding dengan tindakan Yesus membangkitkan Lazarus. Namun tindakan itu tidak dipahami oleh Yudas.
Ay. 4-6: Yudas mulai mempertanyakan hal itu sebagai pemborosan belaka. “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?” Mengapa Yudas begitu marah kepada Maria?
Pertama, penulis mencatat, kemarahan Yudas tidak timbul dari kepeduliannya terhadap orang miskin. Tetapi, karena dia dapat keuntungan, seandainya uang hasil penjualan minyak tersebut diberikan kepada Yesus. Sebagai bendahara kelompok, Yudas acap menggelapkan uang. Yudas memandang orang miskin sekadar alat untuk menambah kekayaan pribadinya. Ketika memberi, dia bisa mengambil keuntungan. Tak beda dengan aksi-aksi sosial masa kini. Tidak seluruh sumbangan jatuh ke tangan yang berhak. Sering terjadi kebocoran dengan dalih administrasi. Menolong orang agar dapat keuntungan materi, di samping pujian tulus dari pihak yang ditolong.
Kedua, bisa jadi Yudas belum merasakan kasih Yesus. Orang yang belum pernah merasa dikasihi, mustahil dapat mengasihi. Orang yang belum pernah menerima kasih, mustahil memberi kasih. Inilah yang membedakan Yudas dan Maria. Tak heran jika Yudas menjual Yesus seharga 30 keping uang perak. Nilai satu keping uang perak setara dengan tiga dinar. Jadi Yudas hanya menghargai Yesus dengan harga: 30 keping x 3 dinar x Rp. 60.000,-= Rp.900.000,-
Ay 7-8: Yesus merespon Yudas. Yesus menghargai tindakan Maria meminyaki kaki-Nya dengan minyak narwastu yang begitu mahal. Yesus tidak menentang pemberian pada orang miskin namun Ia menekankan bahwa pada hari itu, Ia adalah prioritasnya. Yesus membela Maria dengan alasan penguburan-Nya, Apa maksudnya? Yesus mengkaitkan pengurapan itu sebagai suatu persiapan untuk penguburan-Nya karena Ia akan disalibkan beberapa hari kemudian. Yesus tahu bahwa kematianNya adalah kematian karena dibunuh oleh para imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Dengan demikian tentu tubuh-Nya tidak akan mendapatkan penghargaan saat Ia mati. Tubuh-Nya takkan diminyaki lagi. Karena prosesi pemakaman orang-orang hukuman yang disalib akan berlangsung sangat cepat dan tidak memungkinkan untuk memberikan kepada Yesus upacara kedukaan yang pantas maka Yesus menghargai proses peminyakan yang Maria lakukan sebagai tahapan penguburan-Nya. Dan akhirnya, yang Maria lakukan bagi Yesus adalah sebuah tindakan yang sangat berarti bagi Yesus dalam dalam hidup-Nya dan menjelang kematian-Nya.
Aplikasi
Berdasarkan penjelasan teks diatas, terlihat ada 2 tokoh yang kontra dalam mengenal dan mengucap syukur akan karya Yesus.
Pertama, Maria yang begitu mensyukuri karya Yesus sehingga memberi yang terbaik untuk Yesus tanpa memperhitungkan segala sesuatu walaupun membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. Sebuah spiritual murni yang lahir dari cinta Tuhan.
Kedua, Yudas yang mengkritisi tindakan cinta Maria dan memperhitungkan tindakan cinta dalam bentuk materi. Ia melupakan bahwa karya Yesus lebih besar dari materi. Cintanya pada materi lebih besar dari pada Yesus sehingga pada akhirnya ia rela menjual Yesus demi materi/uang. Yudas memanipulasi pemberikan atas nama orang miskin namun sebenarnya untuk dirinya sendiri. Sebuah kemunafikan spiritual. Yesus merespon dua tokoh tersebut. Yesus sangat menghargai kasih Maria dan mencela kemunafikan spiritual Yudas karena Yesus tahu apa yang dipikirkan Yudas. Yesus sangat menghargai tindakan Maria karena tindakan Maria adalah tindakan yang Yesus butuhkan khususnya menjelang kematian-Nya
Sebagai orang Kristen, mari berefleksi. Selama ini, dalam kita mencintai Yesus dan menghargai karya-Nya, apakah diri kita cenderung seperti Maria ataukah seperti Yudas?
Penutup
Inilah makna pengurapan Yesus. Maria menunjukan kasih-Nya pada Yesus tepat seperti yang Yesus butuhkan. Maria menunjukkan tak hanya kerinduannya (pokok bahasan), kasih-Nya namun juga pengorbanannya kepada Yesus karena Yesus telah melakukan yang lebih besar untuk Maria. Sebagai orang Kristen, teladanilah Maria, memberikan yang terbaik bagi Yesus sebagai bentuk cinta kita sambil mengingat karya Yesus dalam hidup kita tanpa memperhitungkan pengorbanan, nilai yang diberikan.[*]
Penulis: Pdt. Lastri Rosebeth Agustaf