Pendahuluan
Keadaan jaman akhir-akhir ini tidak sedang baik-baik saja. Alam bergejolak, hujan lebat dan badai yang terjadi, resesi ekonomi yang mengglobal, krisis pangan, hama belalang, ancaman kelaparan, mengindikasikan bahwa kehidupan manusia sedang terancam. Manusia tak berdaya menghadapi semua itu. Manusia terlihat kerdil, dan seolah hanya menjadi korban tak dapat melakukan perlawanan masiv untuk bertahan dan mengalahkan keadaan. Takut, kuatir, gelisah adalah respon yang hadir.
Dalam prahara menakutkan inilah, seolah ada ruang “kerinduan” baru yang Allah hadirkan untuk menusia berserah dan berseru kepada Allah dalam situasi terhimpit sekalipun. Dalam ruang inilah manusia akan berjumpa dan menemukan ada Allah Sang Penebus dan Penyerta yang tidak akan meninggalkan manusia.
Pendalaman Teks
Umat Israel adalah yang dijamin, diberkati, dan dilindungi Allah. Di mana Allah memberikan janji- janji-Nya berupa sumpah, berkaitan dengan perjanjian, atau berdiri sendiri sebagai firman Allah. Walaupun janji itu berorientasi di masa depan, tetapi umat Israel meyakininya dan menantikan penggenapan dari janji-janji Allah itu – janji berkat, pemeliharaan, penyertaan, dan perlindungan, jaminan Allah kepada umat-Nya, yang didasarkan pada pemilihan atas anugrah-Nya, perkenanan-Nya, menurut kedaulatan, kehendak, dan pertimbangan-Nya sendiri. Dari keterpilihan Israel maupun keterpilihan Sion pun berkembanglah teologi Sion atau bisa disebut juga dengan teologi jaminan. Di mana umat Israel ataupun Yerusalem adalah yang terberkati, terlindungi, tidak akan kalah karena penyertaan Allah, Allah melindungi, Allah yang berperang bagi umat dan tempat kediaman-Nya.
Konteks penulisan Yesaya 43:1-7 yaitu Yesaya meyaksiakan penghukuman Tuhan bagi Yehuda. Masa kekalahan Yehuda dari Asyur maupun saat Yehuda jatuh di tangan Babel. Keadaan Yehuda waktu itu tanpa harapan. Mereka terbuang dari hadapan Tuhan dan Baik Allah sebagai simbol kehadiran Allah. Keadaan Yehuda seperti tak tertolong. Ilah-ilah yang mereka sembah, yang terbuat dari pahatan ternyata hanya ilah mati yang tak berdaya. Berbagai pertanyaan muncul, di manakah Tuhan? Masihkah Tuhan mengasihi Yehuda?
Di masa inilah Yehuda hadir memberikan pengharapan, penghiburan, pemulihan. Tuhan menghukum namun tidak membinasan. Seruan jangan takut, yang dua kali dikemukakan (Ay. 1 & 5), menandakan kehadiran Tuhan. Tuhanlah penebus mereka, yang memberikan penghiburan dan pelepasan. Kehadiran Allah dalam masa tanpa harap, memberikan jaminan bahwa Allah akan melakukan perkara besar dalam sejarah kehidupan Yehuda. Yehuda akan baik-baik saja melewati penghukuman mereka saat bersama Allah (Ay. 2) dan Allah akan mengumpulkan mereka kembali, kaum yang berserak (Ay. 5 & 6). Allah tak meninggalkan mereka mengingat sang pemilik hidup dan Allah akan menebus serta melepaskan mereka.
Ada dua hal yang membuat Allah menebus mereka. Pertama: Yehuda milik kepunyaan Allah (Ay. 1) dan kedua, Yehuda berharga bagi Tuhan (Ay.4). Yehuda berharga bukan karena mereka berharga, namun karena kasih Allah yang mengingat perjanjiannya dengan leluhur Israel bahwa mereka adalah bangsa yang dipilih oleh Allah. Yehuda diciptakan dan dibentuk untuk kemuliaan Allah (Ay. 7)
Aplikasi
Mengadapi dunia dan segala problematika di dalamnya, sering perasaan tak berdaya, takut hilang harapan menjadi milik kita. Namun di tengah situasi seperti itulah Firman Tuhan mau menegaskan beberapa hal untuk kita berdasarkan Yesaya 43:1-7
- Jangan takut, masih ada Allah. Ingatlah bawa kita ini milik Allah dan sekali-kali Allah takkan meneninggalkan atau membiarkan kita bergumul sendiri saat kita mencari dan berserah kepada-Nya.
- Kita berharga di mata Allah. Allah sungguh mengasihi kita. Kematian Yesus disalib menunjukkan betapa kita berharga dimata-Nya sehingga Ia rela mengaruniakan AnakNya yang tunggal. Saat Allah menganggap kita berharga maka hargailah Allah dengan tetap berpaut dan berpengharapan hanyapada-Nya
- Bersama Allah pemulihan pasti terjadi. Apapun krisis hidup yang menerpa, tantangan danpergumulan yang menggerogoti. Saat Allah ada di dalam kita dan kita di dalam hal, percayalah suatu saat akan tiba kehidupan akan dipulihkan serta kita akan dimampukan untuk melewati semua tantangan itu karena Ialah Allah yang menebus dan menyertai. Pemulihan sangat berkaitan erat dengan ketahan dan waktu. Tetaplah bertahan dan percaya pada-Nya dan dalam waktu-Nya semua akan kembali baik bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Penutup
Di minggu sengsara ke 4 ini, Firman Tuhan meneguhkan kita kembali, bahwa dalam sengsara/keluh/rintih dan lirih kita, ingatlah selalu bahwa Allah sang penebus dan penyerta yang tidak akan meninggalkan kita. Dalam semua situasi itu, nyatakan kerindukan kita pada Allah dengan terus berpengharapan padaNya. Pupuklah iman, pengharapan dan kasih akan Dia hingga kita melihat bahwa Allah telah memulihkan segala sesuatu untuk umat kepunyaan-Nya dan demi kemuliaan nama-Nya.[*]
Penulis: Pdt. Lastri Rosebeth Agustaf