Yesus Adalah Imam Besar (Ibrani 9:11-28)

Pendahuluan

Dalam tradisi keagamaan Yahudi, imam besar berasal dari suku Lewi. Imam besar atau Imam Agung memegang jabatan tertinggi yang berkaitan dengan ibadah orang Israel. Imam besar dipercaya sebagai wakil umat Israel di hadapan Allah serta berperan sebagai perantara yang kudus antara umat dan Allah. Mula-mula imam bertindak sebagai pembantu nabi Musa dalam jabatannya sebagai perantara (Kel. 24: 5). Kemudian pekerjaan imamat diserahkan kepada suku Lewi (Bil. 16:40). Imam besar hanya berperan setahun sekali dalam mempersembahkan korban tahunan di Bait Allah di Yerusalem dan hanya imam besar yang bertugas untuk mempersembahkan korban dan masuk ke ruang maha suci. Menurut peraturan Yahudi, hanya Imam Besar yang diperbolehkan masuk ke dalam ruang mahasuci di Bait Suci, yakni satu tahun sekali pada Hari Raya Penebusan (dalam bahasa Ibrani disebut Yom Kippur). Di dalam ruang mahasuci tersebut, Imam Besar melakukan ritus pengurbanan darah domba sebagai ganti dosa seluruh rakyat Yahudi di hadapan Allah. Dalam PB tercatat, dua nama yang menjadi imam besar yaitu Hannas dan Kayafas. 

Pendalaman Teks

Ay. 11-15: Ada dua hal yang ingin ditekankan dalam ayat-ayat ini. Pertama: Identitias Yesus dan Kedua: Peran Yesus. Pertama: Yesus Dikatakan sebagai imam besar bukan berdasarkan garis keturunan Lewi namun berdasarkan identitas asli-Nya. Ia adalah anak Allah, Ia berasal dari Sorga (melintasi kemah yang lebih besar dan sempurna). 

Kedua: Kehadiran Yesus di dunia dengan tugas penebusan dosa umat. Sekali untuk selama-lamanya. Yesus melunasi hutang dosa manusia yang dibayar ”cicil” setiap tahun oleh imam besar dalam ritual keagamaan. Tidak ada lagi darah domba dan lembu jantan yang menebus dosa manusia seperti tradisi tahun agama Yahudi. Yesus melakukan hal tersebut sekali untuk selama-tamanya. Penebusan itu berdampak positif pada perjumpaan manusia dengan Allah dalam ibadah tanpa perantara manusia namun hanya melalui Yesus.

Inilah makna terdalam Yesus sebagai imam besar. Ia adalah anak Allah yang menebus dosa manusia sekali untuk selamanya dan di dalam Dia, setiap umat yang percaya dapat berjumpa dengan Allah tanpa perantara manusia dan tanpa darah korban. Kapanpun dan di manapun manusia rindu beribadah, dalam Yesus perjumpaan dengan Allah dapat terjadi karena darah itu telah menyucikan manusia sekali untuk selamanya. Tak hanya itu, kematian dan penebusan Yesus menjadi jaminan bahwa umat yang percaya kepada-Nya memiliki jaminan dalam perjanjian baru dengan Allah yaitu hidup yang kekal.

Ay. 16-23: Perjanjian baru dalam darah Kristus menjadi sah melalui darah-Nya. Artinya, jaminan kebebasan untuk beribadah (berjumpa dengan Allah) dan jaminan kehidupan kekal, menjadi sah lewat kematian Yesus saat darah-Nya ditumpahkan di lain pihak Darah Yesus juga membatalkan perjanjian yang lama, di mana jaminan pengudusan dan keselamatan berdasarkan hukum Taurat yang disahkan dengan darah anak domba dan anak lembu.

Ay. 24-28: Penebusan Yesus sekali untuk selamanya. Setelah penebusan, Ia menghadap Allah untuk kepentingan kita. Artinya, Yesus menjadi jaminan di hadapan Allah bahwa kita umat tebusan-Nya dan keselamatan menjadi bagian umat yang menerima penebusan tersebut. Seperti manusia yang ditetapkan mati hanya sekali saja, demikian pula Yesus, pengorbanan-Nya sekali untuk selamanya dan sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya lagi bukan sebagai “korban penebusan dosa” namun untuk menganugerahkan keselamatan pada manusia.

Aplikasi

Dalam tradisi peribadatan orang Israel/agama Yahudi, kekebasan beribadah (berjumpa dengan Allah) dan jeminan keselamatan, bergantung imam dan darah korban. Identitas Allah yang kudus membuat keterbukaan Allah dengan umat hanya boleh terjadi melalui perantara imam dan darah penyucian darah domba dan lembu yang tertumpah. Allah terkesan sangat eksklusif. Allah terkesan penutup diri, tak semua pribadi bisa berjumpa dengan-Nya. Di lain pihak, “cicilan penebusan” sangat ritualis dan berjangka setahun. Usaha maksimal umat, imam dan darah domba lembu sebagai jaminan setahun penebusan

Dalam darah dan keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus Yesus, semua usaha dari pihak manusia dia batalkan. Yesus memulai sebuah penyataan iman bahwa di dalam Dia, Allah merima semua umat yang mau beribadah kepada-Nya. Selain itu, di dalam Dia, umatnya memiliki wasiran perjanjian baru yaitu keselamatan.

Mengapa di dalam Yesus? Karena Yesuslah iman besar agung yang berasal dari sorga. Satu-satunya korban dan perantara penebusan satu untuk selamanya. Dalam Dia manusia memiliki kebebasan berjumpa langsung dengan Allah dalam kekudusan yang telah dikerjakan Yesus dan darah-Nya adalah materai yang dicapkan kepada manusia sehingga kita memiliki keselamatan kekal.

Dalam hal inilah, manusia harus mensyukuri, menyembah dan tinggal dalam Yesus karena Yesus sang imam besar telah “berusaha” untuk membebaskan manusia dari kesulitan beribadah, kesulitan menumpahkan darah ternak dan kegamangan keselamatan. Dalam Yesus Sang Imam besar semuanya menjadi jelas dan mudah. Untuk itu, gunakanlah kesempatan beribadah yang Yesus kerjakan dengan sepenuh hati dalam perjumpaan dengan Allah dan rayakanlah keselamatan yang Yesus telah kerjakan melalui darah-Nya dengan hidup di dalam Dia, agar saat Ia datang kembali, Ia mendapati bahwa perjanjian baru itu diindahkan oleh kita umat-Nya.

Penutup

Di Minggu Sengsara ke-5 ini, bahan PART di bawah Pokok Bahasan Kerinduan Akan Allah dan SPB: Yesus Sebagai Imam Besar memberikan sebuah sukacita iman bagi kita yaitu Kerinduan kita akan Allah dalam ibadah-ibadah, dalam persekutuan di tengah pergumulan dunia telah diperantarai oleh Yesus Sang Imam besar bahkan tak hanya itu saja, perjuangan imam kita di dunia, bersama Yesus Sang Iman besar akan mendatangkan sukacita keselamatan kekal yaitu hidup yang kekal. Di luar yesus kerinduan kita akan Allah, terasa sangat sulit, namun di dalam Yesus semua dimudahkan asalkan kita percaya pada-Nya. Yesuslah Sang Jalan Lain yang Allah sediakan agar manusia bisa bersekutu dengan-Nya dalam ibadah dan menikmati perjanjian baru yaitu hidup yang kekal.[*]

Penulis: Pdt. Lastri Rosebeth Agustaf

Bagikan ke: