Pendahuluan
Kerapuhan adalah bagian dari diri manusia, menyatu dengan identitas dan hakikat diri. Dalam KBBI, perihal rapuh; kelemahan (hati, jiwa, fisik dan sebagainya). Karapuhan tidak hanya melekat pada fisik atau usia, namun menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia. Hati yang rapuh karena luka dan trauma. Jika yang letih karena berbagai tekanan dan tantangan. Kehilangan semangat hidup dan lain sebagainya. Menyikapi kerapuhan manusia, Mazmur 71:1-14 menjadi role model/pola manusia dalam berharap dan menerima rengkuhan Allah yang meneguhkan dan menguatkan.
Pendalaman Teks
Mazmur 71 merupakan Mazmur doa seseorang yang mengalami kerapuhan hidup dan berharap akan rengkuhan Allah. Dalam teks ini dijelaskan kerapuhan yang dialami penulis yaitu kerapuhan fisik dan psikis, Ia telah lanjut usia (Ay. 9) dan memiliki banyak pergumulan serta tantangan dan Ia membutuhkan rengkuhan Allah yang tak hanya meneguhkan bahkan membebaskan dirinya dari semua musuh dan kesusahan (Ay. 1 dan 2).
Pengharapannya pada Allah Ia miliki karena pengalaman imannya bersama Allah yang selalu menjadi tempat pengharapan-Nya sejak ia masih muda (Ay.5). Sebab itu ia meminta kepada Allah untuk menjadi gunung batu, kubu pertahanan (Ay.3). Mengapa pemazmur ini meminta Allah menjadi gunung batu dan kubu pertahanan? Istilah gunung baru dan kubu pertahan adalah istilah umum dalam peperangan. Kedua tempat itu adalah tempat pelindungan diri dan persembunyian yang aman saat perang.
Saat pertempuran semakin semakin sengit dan kelelahan perang melanda semua prajurit, maka mereka akan mendaki ke gunung batu yang tinggi dan bersembunyi di sana. Dari ketinggian itulah mereka bisa melihat pergerakan musuh, bersembunyi dan menghindar dari peperangan yang melelahkan dan bisa berakibat kekelahan. Begitupun dengan pemazmur, saat ia mulai lelah dengan pergumulannya, ia datang pada Allah dan berharap Allah menjadi gunung baru dan kubu pertahanannya agar dia tidak hancur namun luput dari tangan dan cengkeraman orang lalim dan kejam (Ay.4)
Ay. 6-9, merupakan pengakuan pemazmur bahwa Allahlah tempat terlindungan dan kekuatannya, saat ia masih lemah di dalam kandungan, namun atas pekerjaan Allah ia dilahirkan dan bisa hidup. Pengakuan atas kedaulatan Allah dalam hidupnya yang membuatnya memuji dan menghormati Tuhan. Oleh karena itulah pemazmur dalam rapuhnya karena usia dan karena pergumulannya, Ia meminta Allah yang dikenalnya sejak dalam kandungan untuk tak membuangnya dan meninggalkannya. Dalam hal ini pemazmur, tak mau menjalani kerapuhannya seorang diri, ia mau berlindung dan berharap kepada Allah Sang Penolong yang senantiasa hadir dalam hidupnya sejak dalam kandungan hingga masa tuanya.
Pemazmur tak menghendaki, musuhnya beria dan menghancurkannya atas dia dan bahkan menghina Allah tempat perlindungannya kalau Allah meninggalkannya (Ay. 10-11). Oleh sebab itu ayat 12-17, pemazmur memohon dan senantiasa berharap pada-Nya dan ia percaya Allah akan melepasakannya karena baginya, Allah mampu melepaskannya dari pergumulannya dengan keperkasaan-Nya oleh karena itu pemazmur hendak berharap, percaya dan bermazmur karena perbuatan Allah yang tak berubah dulu, kini da selamanya.
Aplikasi
Berdasarkan pemaparan teks di atas ada beberapa pokok teologis dan aplikatif yang dapat diambil:
- Dalam segala rapuh, senantiasalah berharap pada Allah. Jika kerapuhan pemazmur karena masa tuanya yang dihimpit pergumulan, mungkin ada banyak kerapuhan lain yang telah, sedang dan akan menghimpit kita. Kerapuhan tak dapat hindari karena manusia pada kahikatnya rapuh. Ia adalah debu dan tanah. Namun dalam rapuh, berharap ada Allah Sang rengkuh akan meneguhkan dan menguatkan serta menyelamatkan manusia dari kehancuran kerapuhannya.
- Hanya Allah, bukan yang lain. Menghadapi kerapuhan hidup, pengalaman iman pemazmur membuktikan bahwa hanya Allahlah gunung batu dan kubu pertahanannya. Pemazmur tak mencari pengharapan dan pertolongan ke tempat lain. Kesadaran bahwa Allah satu-satunya tempat perlindungan membuat pemazmur tenang dan memuji Tuhan karena ia percaya Tuhan pasti menolongnya.
- Allah tak berubah, dulu, kini dan selamanya. Pengalaman pemazmur yang mengalami bahwa Allah menolongnya di masa muda, menjadi fondasi imannya bahwa di masa tua pun Allah akan menolong dia. Allah tak berubah saat menolong orang yang berpengharapan kepadanya. Demikian juga kita, setiap kita punya pengalaman iman di masa lampau bahwa Allah tak membiarkan orang yang berpengharapan kepadanya, maka jadikan pengalaman itu sebagai pengalaman iman dalam setiap pergumulan di masa yang akan datang. Jika Allah telah menolong di masa lampau, maka Allah yang sama akan tetap menolong di masa kini juga masa depan.
- Pujilah Tuhan dalam semua situasi. Pemazmur, saat ia berharap kepada Allah sambil mengingat perbuatan Allah di masa lampau, pujian ia naikkan dan ia menceritakan perbuatan Allah. Tindakan ini berbeda dengan tindakan manusia pada umumnya. Seringkali dalam menghadapi kerapuhan, manusia memilih untuk mengeluh dan bersyukur, putus asa dan meninggalkan Allah seolah tak ada Allah. Seolah tidak berpihak dan Allah melupakan. Contohilah pemazmur, biarkan dalam semua kerapuhan kita, kita tetap berharap dan memuji serta menceritakan perbuatan ajaib Allah dalam hidup kita.
Penutup
Orang bijak pernah berkata: kapankah puncak kerinduan manusia kepada Allah? Bukan saat manusia itu sukses atau Bahagia namun saat ia berbeban berat. Di minggu sengsara ke-5 kali ini, bahan PART kita memberikan sebuah pengharapan bahwa saat menjalani kehidupan yang penuh dengan pergumulan dan kesengsaraaan karena berbagai faktor, senantiasalah berharap pada Allah, percayalah bahwa hanya Ialah gunung batu dan kubu pertahanan kita, tetap naikkan syukur serta ceritakanlah perbuatan ajaib-Nya, maka Ia akan memberikan jalan lain agar kita mendapatkan keselamatan.[*]
Penulis: Pdt. Lastri Rosebeth Agustaf