Setiap orang pasti memiliki setidaknya satu atau beberapa hal yang menjadi kebanggaan dalam hidup. Bisa berupa wajah yang cantik/ganteng, orang tua, pasangan, harta, jabatan, pekerjaan, dll. Yang kalau apa yang menjadi kebanggaan itu hilang, maka dampaknya seseorang bisa kehilangan percaya diri, kecewa, tidak punya semangat hidup, dll.
Hal yang sama dalam kehidupan bangsa Israel, mereka memiliki beberapa hal yang menjadi kebanggaan atau bisa disebut bagian dari identitas mereka: kota Yerusalem dengan kemegahannya, Bait Allah sebagai lambang kehadiran Allah di tengah mereka, dan tanah perjanjian yang diberikan Tuhan kepada mereka melalui proses yang penuh perjuangan.
Tapi pada waktu itu mereka harus kehilangan semua yang menjadi kebanggaan mereka karena serangan bangsa Babel yang mengalahkan dan memperbudak mereka, dimana hal ini merupakan bentuk hukuman Tuhan bagi mereka karena mereka hidup dalam dosa, sehingga membuat mereka berada dalam keadaan yang terpuruk. Dalam keadaan terpuruk, yang bisa dilakukan oleh bangsa Israel secara umum dan juga Yeremia secara khusus sebagai Nabi pada waktu itu adalah meratapi dan mengeluh dengan kondisi yang terjadi, yang harus mereka jalani selama 70 tahun. Ratapan dan keluhan itu dituangkan oleh Nabi Yeremia dalam puisinya yang kita kenal sebagai kitab Ratapan. Salah satu dalam pasal ini kalau kita baca pada ayat 1-20, yang mengkisahkan bagaimana Yeremia juga turut merasa tertekan atas apa yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel.
Tapi dalam keadaan ini, ada hal luar biasa yang ditunjukkan oleh Yeremia, yaitu bagaimana ia mampu merubah cara pandangnya tentang apa yang terjadi. Sekalipun secara manusia dia tidak bisa mengabaikan penderitaan dan tekanan yang dialami, tapi hebatnya dia tidak membiarkan dirinya terpaku pada hal itu, melainkan sebaliknya dia mampu mengarahkan pandangan dan perhatiannya pada sesuatu yang bisa memberikan pengharapan baginya dan juga bagi bangsa Israel. Itu bisa kita lihat pada ayat 21 “tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku berharap”, hal yang dimaksud Yeremia yang dia perhatikan yang berguna menjadi dasar dia berharap adalah bagian yang menjadi perenungan kita saat ini dari ayat 22-33. Yaitu tentang kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, serta kesetiaan Tuhan yang teramat sangat besar dan selalu baru setiap hari.
Besarnya tekanan dan penderitaan tidak membuat Yeremia terpaku dan terpuruk di dalamnya, melainkan Yeremia tetap mampu melihat pada sesuatu yang baik bagi dia dan bagi bangsa Israel. Kenapa hal ini bisa terjadi?
- Karena dia mengenal Tuhan dengan sangat baik sebagai Pribadi yang berlimpah kasih setia,Pribadi yang kesetiaan-Nya sangat luar biasa sekalipun bangsa Israel seringkali tidak setia, Pribadiyang selalu menyatakan kemurahannya setiap hari.
- Karena Yeremia sudah mengalami langsung bagaimana kasih setia Tuhan dalam hidupnya.Berkali-kali ia ada dalam bahaya, nyawanya terancam, berkali-kali juga Tuhan menyelamatkan dia dan tetap memelihara dia.Karena itu dia memberi pengakuan bahwa Tuhan adalah bagian dalam hidupnya (Pribadi yang sangat dekat dengan dia, Pribadi yang memiliki hubungan yang sangat akrab dengan dia, Pribadi yang tidak pernah sedetikpun meninggalkan dia), karena itu dia tetap berharap kepada Tuhan dan mau menanti pertolongan Tuhan.
Apa yang dilakukan oleh Yeremia ini sekaligus menjadi perenungan bagi bangsa Israel, agar tetap memiliki pengharapan kepada Tuhan yang berlimpah kasih setia dalam hidup mereka, agar mereka tetap mengingat kasih setia Tuhan yang luar biasa dalam hidup mereka, serta mau sungguh menyesali dosa dan bertobat sambil menantikan pertolongan dan pemulihan dari Tuhan.Pengalaman bangsa Israel secara umum dan Yeremia secara khusus ini sangat berguna untuk memotivasi kita sebagai umat Tuhan masa kini. Secara khusus ketika sedang berhadapan dengan berbagai kesulitan : masalah rumah tangga, pekerjaan, sakit-penyakit, dll. Yang seringkali membuat kita hidup dalam tekanan, hidup dalam rasa kuatir dan takut yang berlebihan, hidup dalam keputus asaan, hidup pesimis dan tidak berani melangkah maju, bahkan mungkin bisa sampai mempertanyakan kemahakuasaan atau keadilan Tuhan, dll.Beberapa hal menjadi perhatian kita :
- Lewat pengalaman Yeremia kita bisa belajar, bahwa cara pandang yang benar akan menentukanbagaimana kita merespon segala sesuatu dan juga cara pandang yang benar akan menentukan kualitas hidup kita. Kenapa kita seringkali semakin terpuruk ketika ada dalam tekanan? Itu karena kita lebih suka melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang salah/cara pandang manusiawi kita, yang lebih suka melihat pada besarnya masalah, beratnya persoalan, hebatnya rintangan dan tantangan. Sehingga itu semua menutup mata dan hati kita untuk memandang pada Tuhan sumber pengharapan, serta mengganggu iman kita sehingga kita tidak lagi sepenuhnya yakin pada pertolongan Tuhan.
- Dari Yeremia kita belajar bahwa ketika kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang tepat atau dengan kacamata rohani, itu akan menolong kita untuk tidak sampai kehilangan pengharapan sekalipun kehidupan kita sangat terganggu dari berbagai segi serta banyak hal yang jadi kebanggaan kita mungkin tidak lagi bisa kita banggakan karena kondisi hidup yang sulit. Karena pandangan kita tetap tertuju pada Tuhan yang berlimpah kasih setia, yang tidak akan membiarkan kita jatuh sampai tergeletak, yang tidak akan membiarkan kita sampai terpuruk dan yang pasti akan menolong kita tepat pada waktunya.
- Hal ini memang bukan perkara yang gampang, tapi dengan memohon pertolongan Roh Kudus kita pasti dimampukan. Serta ini bisa kita lakukan jika kita sudah sungguh mengenal Tuhan kita dengan baik dan juga ketika kita sungguh mengingat dengan baik bagaimana kasih setia Tuhan dalam pengalaman hidup kita. Karena pengenalan dan pengalaman iman yang baik akan menjadi dasar yang baik untuk kita tetap berpengharapan kepada Tuhan sekalipun dalam keadaan yang sulit.
- Bagi orang yang hidup dalam Tuhan, tidak ada namanya jalan buntuh atau kegelapan untuk selamanya. Selalu ada jalan keluar dari setiap persoalan yang terjadi, selalu ada tangan Tuhan yang tidak kelihatan yang menopang dan menyertai. Karena persoalan kita tidak lebih besar dari Tuhan kita, melainkan Tuhan kita lebih besar dari segala persoalan kita.
- Karena itu dalam suka maupun duka, di atas gunung atau lembah, saat hidup penuh berkat maupun dalam pencobaan, kita harus tetap mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan dan harus tetap mengingat akan kasih setia Tuhan, agar kita tetap memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah Sahabat Sejati yang tidak akan pernah meninggalkan kita.
Amin. [*]
Penulis: Pdt. Fandrian Ngg. Hukapati, S.Th