Keluarga yang Tidak Meninggalkan Tuhan (Yosua 24:14-24)

Hidup memang selalu diperhadapkan dengan pilihan, bahkan mulai dari bangun tidur di pagi hari. Mau terus tidur atau bangun berangkat kerja. Mau makan sop atau soto. Setiap pilihan mengandung konsekuensi. Ada pilihan yang konsekuensinya berdampak kecil dan ada yang besar, bahkan kekekalan.

Setelah bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan dan Yosua yang telah tua dan lanjut umur, Yosua ingin kembali menegaskan dan meneguhkan komitmen bangsa Israel untuk beribadah kepada Tuhan. Maka Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Shikem. Kepada bangsa Israel, Yosua menegaskan bahwa sebelum melanjutkan kehidupan di tanah perjanjian yang sudah diberikan, mereka harus menetapkan pilihan. Pilihan tentang kepada siapa mereka akan beribadah, berbakti, setia dan taat. Sesungguhnya, mereka punya banyak pilihan. Bangsa itu dapat memilih untuk beribadah kepada allah nenek moyang mereka saat berada di seberang sungai Efrat, atau kepada allah-allah bangsa-bangsa di sekitar mereka, atau kepada Tuhan Allah yang telah membebaskan dan menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir, serta yang menyertai mereka dalam perjalanan panjang selama kurang lebih 40 tahun. Bangsa itu bebas memilih, tetapi Yosua tegas memberikan contoh bahwa ia dan seisi keluarga akan memilih untuk hanya beribadah kepada Tuhan Allah saja. Alkitab mencatat bangsa itu memilih seperti Yosua memilih. Mereka memilih Tuhan Allah dan berjanji hanya beribadah kepada-Nya dengan setia.

Dalam pidatonya, Yosua memberi kesempatan kepada orang Israel yang sudah hidup menurut hukum Taurat untuk memperbaharui kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka yang bergabung dengan orang Israel selama masa pendudukan juga ditantang untuk memilih “pada hari ini”, apakah mau menyembah Tuhan atau masih menyembah ilah-ilah mereka. Sewaktu di Mesir, orang Israel menyembah lembu suci yang melambangkan Apis, dewa kesuburan. Dewa-dewa Mesopotamia di seberang Sungai Efrat antara lain adalah Marduk, dewa utama bangsa Babilon, dan Bel yang serupa dengan Baal, dewa kesuburan bangsa Kanaan.

Namun Yosua dengan tegas mengatakan pilihannya di ayat 15, “tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Ini menjadi pilihan komitmen Yosua bagi keluarganya, karena ia sudah mengalami karya Tuhan dalam perjuangan pelayanan memimpin bangsa Israel. Soal pilihan pribadi memang termasuk dalam keselamatan yang disediakan Allah. Setiap orang percaya harus senantiasa memilih siapa yang akan dilayaninya. Seperti dengan Yosua dan orang-orang Israel, melayani Tuhan bukan suatu pilihan sekali saja (bd. Yosua 1:16-18, Ulangan 30:19-20); kita harus berkali-kali memutuskan untuk bertekun di dalam iman dan menaati Tuhan. Membaharui pilihan-pilihan yang benar oleh orang percaya meliputi takut akan Tuhan, kesetiaan kepada kebenaran, ketaatan dengan hati yang sungguh-sungguh, dan penyangkalan dosa serta kesenangan-kesenangan yang terkait dengannya (ayat 14-16). Lalai memilih untuk melayani dan mengasihi Tuhan akhirnya akan mendatangkan hukuman dan kebinasaan (ayat 20; 23:11-13).

Lalu bangsa Israel merespon Yosua dengan berkata, Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan. Janji bangsa itu untuk hanya melayani Tuhan ditepati, selama masa Yosua memimpin, mereka setia kepada Tuhan. Karena mereka melihat bagaimana Tuhan telah menuntun keluar dari tanah Mesir, rumah perbudakan, serta melakukan tanda-tanda mujizat dihadapan mereka, serta melindungi mereka di sepanjang jalan yang sudah di tempuh, sehingga mereka memilih beribadah kepada Tuhan. Ternyata, hal ini mereka lakukan hanya selama Yosua dan para tua-tua masih hidup. Tidak lama setelah kematian Yosua, bangsa itu meninggalkan Tuhan dan mulai berbakti kepada dewa-dewa lain (Hakim-Hakim 2:11-19). Kami pun akan beribadah kepada Tuhan:Yosua mengingatkan bangsa Israel bahwa melanggar perjanjian yang dibuat dengan Tuhan akan mengakibatkan bencana yang mengerikan, termasuk kehancuran mereka sebagai bangsa. Perjanjian itu menuntut ketekunan dan kesetiaan. Dalam hal ini, semangat saja tidak cukup.

Komiten yang ada pada Yosua untuk memilih beribadah kepada Tuhan dan juga keluarganya turut memberikan contoh bagi bangsanya, sehingga membawa mereka untuk beribadah kepada Tuhan. Maka mari mulai dari keluarga kita untuk memillih beribadah kepada Tuhan, hendaknya, pilihan komitmen iman Yosua, juga menjadi pilihan iman keluar kita. Jikalau Yosua setia pada komitmen “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”, bagaimana dengan kita? Mari kitapun memilih untuk hari ini dan selamanya, saya dan keluarga saya akan beribadah dan menyembah Tuhan.[*]

Penulis: Vic. Ronald Y. Y. Pekuwali, M.Th

Bagikan ke: