Setiap orang pasti mempunyai harapan dalam hidupnya. Bisa berupa kehidupan yang layak, kedudukan atau karir yang mantap, relasi yang baik dan sebagainya. Demikian juga dengan Bartimeus, seorang yang buta, miskin dan hanya hidup dari belas kasihan orang lain. Seorang yang tidak terpandang di kalangan masyarakat tetapi dalam dirinya masih punya harapan untuk dapat melihat sehingga ia tidak hanya mendengar cerita orang tentang cerahnya sinar matahari tanpa bisa melihatnya. Maka ketika mendengar bahwa rombongan Yesus melewati tempat dia duduk mengemis, dia tidak mau melewatkan kesempatan itu sedikitpun.
Mungkin sebelumnya ia telah mendengar berita tentang mujizat yang Yesus lakukan maka diapun punya harapan akan mengalami mujizat itu sehingga ia berseru kepada Yesus bukan untuk meminta sedekah melainkan ia memohon belas kasihan Yesus. Seruan minta tolongnya telah mengganggu khalayak ramai yang ada di sekitar Yesus sehingga orang-orang menegurnya agar ia diam (48).
Tetapi bagi Bartimues, omelan dan hardikan orang banyak bukan penghalang bagi Bartimeus untuk terus berseru kepada Yesus. Bartimeus yakin bahwa inilah saatnya yang tepat baginya untuk bangkit dari ketidakberdayaan untuk hidup normal seperti kebanyakan orang. Ketika Yesus memanggilnya dia tidak merasa ragu atau takut (49-50).
Pertanyaan Yesus, “Apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu” adalah penyelidikan untuk mengetahui sejauh mana iman dan pengharapan Bartimeus. Dari permintaannya terlihat pengakuan iman akan kuasa Yesus yang sanggup menyembuhkan sehingga Yesus mengatakan bahwa imannya adalah iman menyelamatkan, dan dari tindakan Yesus itu terjadilah 2 hal besar dalam diri Bartimeus, yaitu keselamatan rohani dan kesembuhan jasmani.
Saudara-saudari …
Dari Bartimeus kita belajar tentang iman yang benar, yaitu iman yang diarahkan kepada Anak Daud, Mesias yang dijanjikan Allah. Keyakinan yang didasari iman yang hidup itu tidak hanya membuatnya mampu bertahan tetapi lebih lagi membuatnya mengalami perkara besar dalam hidupnya. Masing-masing kitapun dapat terhisap dalam perkara besar Allah sejauh dasarnya adalah iman yang besar dan hidup.
Bagi Tuhan, pengenalan akan dirinya jauh lebih penting dari pada penampilan luar seseorang yang terkesan religious. Yesus sangat peduli dan mau menolong mereka yang rela mempercayakan hidup kepadanya. Karena itu orang yang sungguh beriman tidak perlu ragu dan takut saat datang di hadirat-Nya. Tuhan mengerti dan peduli kepada kita, dan Ia akan memberikan sesuai dengan yang dibutuhkan. Selain itu, Tuhan tidak senang apabila kita menghalangi orang lain untuk beriman dan mengandalkan Tuhan. Tetapi Tuhan lebih senang apabila umat-Nya saling tolong menolong sebagai tubuh Kristus. [*]
Penulis: GI. Orpa Laka Analaji