Setiap orang sudah pasti menginginkan keadaan hidup yang baik, yang bahagia, selalu diberkati oleh Tuhan. Itulah sebabnya orang akan berusaha melakukan apa saja untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan itu.
Hidup yang bahagia seringkali identik dengan apa yang kita miliki, sehingga banyak orang yang pada akhirnya menempuh jalan yang salah hanya untuk mendapatkan sesuatu yang membuatnya bahagia.
Berdasarkan Mazmur Pasal 1:1-6 bahwa pemazmur memiliki pandangan yang berbeda tentang arti kebahagiaan itu, iapun menjabarkan rahasia hidup berbahagia, berhasil yang sesungguhnya bahwa tidak terletak pada apa yang dimilikinya.
Ada 3 hal yang ditegaskan, yaitu:
- Yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayt.1b). Orang Fasik adalah orang yang tidak beriman, tahu tentang Tuhan dan firmanNya, tetapi tidak mau melakukannya, sombong, merasa paling benar, mulut orang fasik penuh kejahatan dan tipu daya (bdk. Mazmur Pasal 36).
- Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayt.1c). Yang dimaksud orang berdosa adalah orang yang melakukan kejahatan dan hidup menurut hawa nafsunya.
- Ayat 1d: Yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Arti pencemooh adalah orang yang kesukaannya mencari-cari kesalahan, menghakimi, mengejek, mengkritik, menggosip dan merendahkan sesamanya. Melainkan yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (ayt.2), yang menjadikan Taurat Tuhan sebagai tolak ukur dalam hidupnya.
Dan selanjutnya pemazmur katakan dalam ayat 3: “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil”.
Artinya setiap firman Tuhan yang kita dengar menjadi sumber kehidupan, sumber kekuatan, sumber kebahagiaan dan sumber keberhasilan, sumber untuk mengoreksi diri sehingga menghasilkan pribadi yang hidup berdampak bagi orang lain, hidup yang terus berproses, makin hari makin dewasa, makin hari makin berakar di dalam Tuhan karena kita memakai standar yang jelas yakni Firman Tuhan. Tetapi sebaliknya memilih mengikuti jalan orang fasik membawa seseorang pada jalan sesat dan menuju kebinasaan (66) karena standar yang digunakan adalah standar dunia.
Dengan demikian membuktikan kepada kita bahwa orang yang sungguh melekatkan hidupnya kepada Tuhan akan menikmati kebahagiaan sejati tetapi orang yang hidup di luar Tuhan mudah diombang-ambingkan dan tidak mampu bertahan. [*]
Penulis: GI. Orpa Laka Analaji